Sudah 310 Nyawa Melayang Akibat Serangan Bom di Sri Lanka

Sudah 310 Nyawa Melayang Akibat Serangan Bom di Sri Lanka

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Terkini.id, Kolombo - Hingga saat ini, tercatat korban tewas akibat teror bom di momen Paskah di Sri Lanka, sudah mencapai 310 orang. Mereka meregang nyawa setelah mengalami luka-luka kritis, lapor juru bicara kepolisian setempat. "Sekitar 500 orang terluka dalam ledakan itu," kata jubir Kepolisian Sri Lanka, Ruwan Gunasekera, sebagaimana dilansir dari Al Jazeera pada Selasa 23 April 2019. Ruwan menambahkan, sebanyak 40 orang saat ini ditahan karena terkait dengan serangan itu. Serangkaian pengeboman terkoordinasi sebelumnya sudah mengguncang gereja dan hotel di Sri Lanka, dan menewaskan lebih dari 300 orang pada perayaan Minggu Paskah di negara pulau Asia Selatan tersebut. Tercatat sudah lebih dari 500 orang terluka dalam serangan terburuk sejak berakhirnya perang saudara 10 tahun yang lalu. Pelaku penyerangan bom diketahui menarget empat hotel, termasuk Shangri-La, Kingsbury dan Cinnamon Grand di ibu kota Kolombo. Sudah 310 Nyawa Melayang Akibat Serangan Bom di Sri Lanka Hampir semua korban dalam bom tersebut adalah warga negara Sri Lanka, dan puluhan lainnya merupakan warga asing. Juru bicara kabinet dan menteri kesehatan Sri Lanka, Rajitha Senaratne, menuduh pelaku pemboman berasal dari sebuah kelompok ekstremis lokal yang kurang dikenal, National Thowheeth Jamath. Pemerintah Sri Lanka telah menetapkan kondisi darurat untuk menjaga keamanan selama petugas berwenang melakukan penyelidikan atas teror bom di ibu kota Kolombo. Presiden Maithripala Sirisena membuat deklarasi yang memberikan pasukan keamanan kekuatan khusus, termasuk hak untuk mencari dan menangkap individu yang terkait dengan aksi pengeboman tersebut. Sri Lanka juga menetapkan 23 April sebagai hari berkabung nasional, sebuah keputusan yang diambil selama pertemuan Dewan Keamanan Nasional yang diketuai oleh Presiden Sirisena. Di lain pihak, militer Sri Lanka diberi wewenang lebih luas untuk menahan dan menangkap tersangka teror bom. Kebjakan ini sebelumnya pernah diterapkan selama perang saudara, namun ditarik kembali pasca-perdamaian satu deakade lalu.

Didukung Teroris Asing

Presiden Maithripala Sirisena telah meminta bantuan asing untuk melacak dukungan kelompok ekstremis internasional terkait pemboman Minggu Paskah. "Laporan intelijen (menunjukkan) bahwa organisasi teroris asing berada di belakang teroris lokal. Oleh karena itu, presiden akan mencari bantuan dari negara-negara asing," katanya dalam sebuah pernyataan. Sementara itu, organisasi polisi kriminal internasional Interpol mengatakan pihaknya telah mengerahkan tim penyelidik, termasuk para ahli dalam identifikasi korban bencana, ke Sri Lanka untuk membantu pihak berwenang setempat. Tim Respon Insiden, yang dikirim atas permintaan pihak berwenang setempat, juga termasuk spesialis dengan keahlian dalam "pemeriksaan TKP, bahan peledak, dan kontra-terorisme", kata Interpol dalam sebuah pernyataan.