Terkini.id, New York - Soal virus corona, peneliti Amerika: khawatir bisa mutasi dan kebal vaksin. Melonjaknya penularan virus corona atau Covid-19 yang melanda negara-negara dunia belakangan ini, memicu kekhawatiran baru terkait merebaknya virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) seperti varian Delta, Delta Plus, dan lainnya.
Virus penyebab infeksi dalam saluran pernapasan manusia tersebut, mungkin hanya menunggu waktu untuk bermutasi hingga mampu kebal dari vaksin.
Hal itu diungkpakan Direktur Pusat Pengendalian Penyakit atau Centers for Desease Control (CDC) Rochelle Walensky.
Ia mengatakan, saat ini vaksin efektif untuk mencegah Covid-19 dengan gejala parah, termasuk yang disebabkan sejumlah varian baru. Kendati demikian, penyebaran yang berkelanjutan dapat memungkinkan penyakit bermutasi di luar perlindungan imunisasi.
“Kekhawatiran terbesar yang saya khawatirkan di bidang kesehatan masyarakat dan ilmu pengetahuan adalah bahwa virus dan mutasi memiliki potensi untuk menghindari vaksin dalam bagaimana vaksi melindungi dari gejala parah dan kematian,” beber Walensky, dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari New York Post, Rabu 28 Juli 2021.
Walensky mengatakan, seperti dilansir dari republika.co.id, saat ini mutasi belum sampli di tahap demikian. Vaksin juga bekerja dengan sangat baik dalam melindungi dari penyakit parah dan kematian, tetapi kekhawatiran terbesar adalah mutasi berikutnya muncul yang mampu menghindari vaksin.
Lebih lanjut, Walensky mengatakan orang-orang harus segera mendapatkan vaksin Covid-19 saat ini. Ia menekankan bahwa virus dapat dimusnahkan sebelum bermutasi hingga menjadi sesuatu yang membutuhkan vaksin lain.
Sebelumnya, CDC mengeluarkan pedoman penggunaan masker dalam ruangan yang dirancang untuk membantu memperlambat penyebaran virus di wilayah-wilayah dengan lonjakan kasus Covid-19. Itu termasuk aturan jaga jarak lantaran potensi penyebaran varian Delta yang sangat menular.
“Di daerah dengan transmisi substansial, CDC merekomendasikan orang yang divaksinasi penuh memakai masker di tempat umum, pengaturan dalam ruangan untuk membantu mencegah penyebaran varian Delta dan melindungi orang lain,” imbau Walensky.
Varian Delta menjadi sekitar 83 persen dari kasus baru Covid-19 secara nasional di Amerika Serikat (AS). Pejabat kesehatan telah menekankan, meningkatnya jumlah kasus di negara itu dipicu orang Amerika Serikat yang belum divaksinasi.
Saat ini, sekitar 99,5 kematian akibat Covid-19 terjadi di antara orang-orang yang tidak divaksinasi, sementara itu sekitar 97 persen mensalami penyakit dengan gejala parah dan membutuhkan rawat inap di rumah sakit.










