Terkini.id, Internasional - Presiden Iran, yakni Ebrahim Raisi, buka suara terkait bom bunuh diri di sebuah masjid Syiah di Afganistan.
Ia melayangkan tudingan bahwa serangan bom bunuh diri di tengah pelaksanaan salat Jumat tersebut adalah "proyek keamanan" AS alias Amerika Serikat.
Dilansir terkini.id dari Sputnik via Pikiranrakyat pada Senin, 11 Oktober 2021, Raisi menuduh insiden tersebut sengaja diciptakan oleh S untuk mewujudkan 'agitasi etnis' di Afganistan.
"Dengan ini saya menyatakan keprihatinan atas aksi teroris dan hasutan agama dengan agitasi etnis yang merupakan bagian dari proyek keamanan baru AS untuk Afganistan," ujar Raisi.
Sebagai informasi, belum lama ini memang terjadi sebuah pemboman di wilayah Kunduz utara Afganistan yang menewaskan lebih dari 50 orang dan melukai lebih dari 140 lainnya.
Seorang pembom bunuh diri dilaporkan meledakkan rompi peledak di tengah kerumunan jemaah Syiah yang telah berkumpul di dalam masjid.
Kelompok teroris ISIS-K mengaku bertanggung jawab atas ledakan bunuh diri tersebut.
Diketahui bahwa serangan itu adalah yang paling berdarah sejak 26 Agustus lalu ketika sebuah ledakan dahsyat menghantam bandara Kabul yang menewaskan sedikitnya 169 warga Afganistan dan 13 tentara AS.
Dalam sebuah pernyataan, presiden Iran menyatakan belasungkawa kepada rakyat Afganistan dan kepada seluruh masyarakat atas kematian yang syahid, yang melibatkan sejumlah besar orang.
"Kejahatan ini, yang dilakukan pada Rabiul Awal, bulan persatuan umat Islam, dengan tujuan menabur perselisihan di antara umat Islam," tutur Raisi.
"Dilakukan oleh mereka yang anti-manusia dan anti-agama jelas bagi semua orang," ia melanjutkan.
"AS telah memfasilitasi perluasan kegiatan penjahat ISIS di Afganistan dan mencegah mereka dihabisi."
Lebih jauh, ISIS-K telah meningkatkan serangannya di Afghanistan sejak Taliban mengambil alih negara yang dilanda perang itu pada 15 Agustus.
Mereka menargetkan Taliban dan penduduk Afganistan dengan banyak ledakan bom, termasuk dua ledakan yang sangat mematikan di Kabul.
Raisi juga menekankan bahwa Iran siap untuk memberikan dukungan penuh kepada saudara-saudara Afganistan.
"Kami berharap dengan kewaspadaan kelompok Afganistan dan pembentukan pemerintah inklusif, Insya Allah, rakyat Afganistan akan dapat melihat perdamaian," tandasnya.
Sebelumnya, sebuah ledakan di dekat masjid Eid Gah juga mengguncang ibu kota Kabul. Ledakan itu menewaskan 12 orang dan melukai 32 lainnya.
Sehubungan dengan serangan itu, tiga orang dilaporkan telah ditangkap oleh pihak keamanan Taliban yang memerintah Afganistan.
Iran, yang merupakan negara mayoritas Muslim Syiah, sangat berhati-hati dalam berkomentar mengenai Taliban, menghindari kritik terbuka terhadap pemerintahan mereka.
Namun, Teheran mengatakan pihaknya tetap berhubungan baik dengan kelompok Islamis tersebut.










