Said Didu ke Prof Henry: Orang yang Benci dan Curigai Agama adalah Politisasi Agama

Said Didu ke Prof Henry: Orang yang Benci dan Curigai Agama adalah Politisasi Agama

R
Resty

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Mantan sekretaris menteri BUMN, Said Didu mengomentari Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, Profesor Henry Subiakto yang menyinggung soal kaum radikal yang memberi panggung politisisasi agama.

Said Didu membalas bahwa membenci dan mencurigai agama adalah politisasi agama.

"Orang yang membenci dan mencurigai agama adalah politisasi agama. Jelas?" katanya melalui akun Twitter pribadinya pada Selasa, 23 November 2021.

Adapun dalam cuitannya, Prof Henry mengatakan bahwa kaum radikal menjadi semakin berbahaya apabila bekerja sama dengan kekuatan politik yang berambisi berkuasa.

"Kaum radikal yang tidak menerima Pancasila sebagai ideologi final dalam berbangsa dan bernegara, menjadi makin berbahaya bagi Indonesia saat mereka bekerjasama dengan kekuatan politik yang berambisi berkuasa," kata Prof Henry melalui akun Twitter resminya pada Minggu, 21 November 2021.

"Dengan memberi panggung politisasi agama dan menerima janji-janji akan mengikuti kehendak mereka jika berkuasa," tambahnya.

Ditelusuri Terkini.id, cuitan Prof Henry itu memang banyak dikritik oleh netizen dan beberapa pihak.

Pegiat media sosial, Helmi Felis menilai bahwa Guru Besad FISIP UNAIR itu menyudutkan agama.

"Dengan menyudutkan Agama anda sedang Politisasi Agama. Lagian narasi seperti ini (politisasi agama) diucapkan selama bertahun-tahun untuk apa Prof?" kata Helmy Felis.

"Sekarang ini yang berkuasa PDIP (jauh dari Sila 1) negara hancur. Dan kalian tunjuk agama sebagai biang kerok? SONTOLOYO.!" tambahnya.

Prof Henry pun membalas bahwa ia tidak menyudutkan agama, melainkan tak setuju agama dipakai untuk kepentingan praktis, cari dukungan, dan provokasi umat berdasar fanatisme dan ikatan primordial.

"Agama itu harusnya jadi panduan perilaku politisi, sehingga mereka jujur, sabar, dan akuntabel, bukann sebaliknya," katanya.