Terkini.id, Jakarta – Ribut soal vaksin di Indonesia masih terjadi hingga saat ini. terbaru, pegiat media sosial, Babe Aldo menyuarakan menolak vaksin untuk anak-anak.
Menurut Babe Aldo, paksaan vaksin sebagai cara negara berbisnis. Karena itu, dia menyuarakan agar rakyat menolak vaksin selama Kementerian Kesehatan tidak mau berdiskusi dan membuka informasi mengenai vaksin tersebut.
“Kalian berhak menolak pemaksaan vaksin. Kenapa? Karena Kemenkes tidak berani berdiskusi dengan kami rakyat Indonesia,” ujar Babe Aldo.
Namun di tengah pertentangan itu, peneliti di Oregon Amerika Serikat (AS) berhasil membuat penemuan terbaru terkait cara menangkal Covid-19.
Para ilmuan itu berpendapat bahwa ganja dapat memegang kunci untuk mengalahkan varian baru dari virus Corona. Demikian ini didasarkan karena adanya penemuan dua senyawa di dalam selada setan dapat menghentikan virus.
Dilansir dari Beritasatu.com pada Sabtu 15 Januari 2022, Tim Ilmuwan University of Oregon mengisolasi dua senyawa dari ganja yakni asam cannabigerolic (CBGA) dan asam cannabidiolic (CBDA).
Mereka berpandangan, dua senyawa itu mengikat protein lonjakan virus Corona dan pada gilirannya akan mencegahnya dan mengikatnya ke membran luar sel manusia.
Kedua senyawa tersebut merupakan prekursor yang secara luas biasanya digunakan untuk mengobati kecemasan, gangguan tidur, epilepsi dan berbagai penyakit lainnya.
CBGA dan CBDA menurut para ilmuwan, “bukanlah zat yang dikendalikan seperti THC, bahan psikoaktif dalam ganja, dan memiliki profil keamanan yang baik pada manusia,” kata Richard Breemen, salah satu peneliti itu.
Van Breemen menambahkan bahwa senyawa ini dapat dikonsumsi secara oral, dan memiliki potensi untuk mencegah serta mengobati infeksi oleh virus Corona.
Penelitian Van Breemen dan timnya ini diterbitkan dalam sebuah Jurnal of Nature Products pada Selasa 11 Januari 2022 silam. Namun begitu, penelitian ini tidak langsung dapat diterapkan sebelum dokter menentukan resepnya.
Dari jurnal tersebut, peneliti menemukan unsur CBGA dan CBDA efektif melawan varian Alpha dan Beta dari virus Corona. Penelitian itu dilakukan pada sel manusia di laboratorium, dengan kata lain bukan pada subjek uji manusia sungguhan.
Alasan mengapa para ilmuwan melakukan penelitian ini, sebagai kritik terhadap vaksin saat ini yang menggunakan protein lonjakan asli virus sebagai antigen, yang berarti bahwa ketika varian baru muncul dengan mutasi protein lonjakan baru, virus lebih mungkin menghindari perlindungan yang ditawarkan oleh vaksin.
“Varian ini terkenal untuk menghindari antibodi terhadap garis keturunan awal (Covid-19), yang jelas mengkhawatirkan mengingat bahwa strategi vaksinasi saat ini bergantung pada protein lonjakan garis keturunan awal sebagai antigen.”
“Data kami menunjukkan CBDA dan CBGA efektif terhadap dua varian yang kami lihat, dan kami berharap tren itu akan meluas ke varian lain yang ada dan yang akan datang,” ujar Van Breemen.










