Sementara itu, studi global yang dipublikasikan di Ophthalmology memperkirakan terdapat sekitar 1,8 miliar orang dengan presbiopia pada 2015 dan jumlahnya diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 2,1 miliar pada 2030.
Berbeda dari LASIK atau SMILE yang pada umumnya bertujuan mengoreksi minus, silinder, atau plus agar pasien dapat melihat jauh dengan lebih jelas, PRESBYOND dikembangkan secara khusus untuk presbiopia.
Teknologi ini menggabungkan koreksi refraksi dengan peningkatan depth of focus atau rentang fokus penglihatan, sehingga pasien dapat memperoleh kenyamanan visual yang lebih baik pada jarak jauh, menengah, maupun dekat.
Tren kebutuhan solusi presbiopia juga terus berkembang, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pilihan koreksi penglihatan yang lebih personal, termasuk pendekatan seperti LASIK monovision, EDOF IOL, dan inovasi koreksi presbiopia lainnya.
Secara prinsip, PRESBYOND menggunakan pendekatan Laser Blended Vision, yaitu pengaturan fokus yang disesuaikan pada kedua mata.
Mata dominan umumnya diarahkan untuk penglihatan jauh, sementara mata non-dominan dibantu untuk penglihatan dekat.
Namun, berbeda dari monovision konvensional yang dapat membuat satu mata terasa lebih buram dan berpotensi mengganggu persepsi kedalaman, PRESBYOND menciptakan transisi fokus yang lebih halus melalui desain ablasi asferik khusus.
Pendekatan ini membantu kedua mata tetap bekerja bersama dengan lebih nyaman dan mempertahankan fungsi penglihatan binokular.
Berbagai studi klinis menunjukkan tingkat adaptasi dan kepuasan pasien yang sangat tinggi pada kandidat yang sesuai.
Direktur RS Mata JEC ORBITA Makassar, Dr. Mirella Afifudin, SpM, M.Kes, menyampaikan bahwa hadirnya PRESBYOND menjadi langkah penting dalam memperluas akses masyarakat Indonesia Timur terhadap layanan koreksi penglihatan modern.










