Polisi Imbau Masyarakat Madura Jangan Undang Pendakwah Gus Nur Karena Radikal, Gus Nur Berang: Kalau Saya Radikal, Tangkep!

Polisi Imbau Masyarakat Madura Jangan Undang Pendakwah Gus Nur Karena Radikal, Gus Nur Berang: Kalau Saya Radikal, Tangkep!

Muh Ikhsan

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta – Pendakwah kontroversial Sugi Nur Raharja alias Gus Nur mengaku berang dengan sikap pihak kepolisian yang menghasut masyarakat Madura agar tidak mengundang pendakwah radikal, termasuk dirinya.

“Tidur di hotel Suramadu jalan Trunojoyo. Kebetulan ada Masjid besar kebetulan kenal, akhirnya dijadwalkan juga untuk ngisi kajian Rabu ba’da subuh,” ujar Gus Nur mulai menceritakan sebelum akhirnya dicap sebagai teroris.

“Ini yang perlu saya refleksi, tuan rumah didatangi polisi, takmir Masjid didatangi polisi, begitulah lagu lama belum selesai. Intinya (polisi mengatakan) ‘janganlah Gus Nur datang ke sini, kalau bisa Gus Nur janganlah dakwah Gus Nur tu radikal,” sambungnya dikutip dari video yang diunggah akun @Lelaki_5unyi, Kamis 17 Maret 2022.

Menurut Gus Nur, sikap kepolisian itu menunjukkan tingkat perabadan yang rendah, sebab dengan mudah memberi cap radikal kepada seseorang. Hal ini, kata Gus Nur, menunjukkan pihak kepolisian sudah tidak netral.

“Saya sedih gitu, sudah sedemikian masifnya, strukturalnya pembodohan negeri ini, polisi tu sudah ngga netral, apa polisi bisa nuduh saya radikal tuh apa? Kalau saya radikal tangkep. Bukan tuan rumahnya didatangi, bukan takmir masjidnya ditelponin,” tegas Gus Nur.

Padahal, ketimbang hanya menebar narasi radikal, polisi sebaiknya mengurus hal yang lebih penting, seperti menangkap Harun Masiku dan pelaku yang membuat minyak goreng langka.

“Tugasnya polisi tu kalau bisa dari Polri sampai ke Polsek itu ngejar Harun Masiku, nangket itu siapa yang bikin minyak goreng langka, itu tugasnya polisi, bukan nuduh saya radikal, radikal, radikal, itu menjijikkan,” tutur Gus Nur berang.

Karena itu, Gus Nur merasa tidak hormat lagi sebab marwah kepolisian sudah sedemikian jatuh di matanya.

“Aku jadi ngga hormat, ngga respek aku, nggak nyangka negeriku bisa serendah ini peradabannya, masif, enak saja nuduh radikal, radikal, radikal. Udah berapa bulan nggak ngamuk ini ada yang mancing-mancing saya terus,” ujarnya.