Seniman berkolaborasi di F8
Selain itu juga menampilkan beberapa pertunjukan yang bersumber dari karya-karya sastra, antara lain: pertunjukan kolaborasi dari seniman Makassar dan Australia dengan judul "The Eyes of Marege", pertunjukan kolaborasi "Maipa Deapati", pertunjukan kolaborasi “Mata Air Kehidupan”, pertunjukan kolaborasi “Spirit of Tomarung”, Monolog dari Indonesia, Malaysia dan Singapura, pertunjukan Pantun, pertunjukan Dongeng, Baca Puisi dan Musikalisasi Puisi serta pameran buku dan Font. Hal tersebut terlaksana karena mendapat dukungan dari Pemkot Makassar di masa pemerintahan yang lalu. Pada tahun ini, Fiction Writer dalam F8, karena tidak lagi didukung oleh Pemkot Makassar, akhirnya F8 dilaksanakan oleh pihak swasta yang bergabung dalam PT. Festival Delapan Indonesia. Dengan keterbatasan dana dan karena hanya mengharapkan sponsor, maka Fiction Writer dalam F8 tahun ini hanya mampu menerbitkan dan meluncurkan buku antologi puisi "Mendengar Tangis I La Galigo". Selain itu, juga hanya mampu menampilkan dongeng dari kelompok Dongkel dari Perpustakaan Kota Makassar, pameran buku dari Kampung Buku, Kedai Buku Petta Puang, Baca Puisi, dan Dialog Sastra dan Budaya secara sederhana. Buku antologi puisi "Mendengar Tangis I La Galigo" yang diterbitkan oleh Fiction Writer dalam F8 melalui penerbit Garis Khatulistiwa memuatkan karya-karya puisi dari 34 penyair Sulawesi Selatan, antara lain: Abidin Wakur, Ade Sulmi Indrajat, Ahmad Kohawan, Amiruddin Lallo, Andi Amriady Alie, Arma Zaida, Asniar Khumas, Badaruddin Amir, Batara Al Isra, Dalasari Pera, Damar I Manakku, Damar Tri Afrianto, Eka Sariana Salam, Faisal Oddang, Faisal Yunus, Fathul Khair Khan. Goenawan Monoharto, Hardiansyah Abdi Gunawan, Ibe S. Palogai, Idham Anwar, Ilham Anwar, Mahrus Andis, Mariati Atkah, Novan Arisandi, Nur Failia Majid, Nurhayati Rahman, Rachmi Chaer, Reski Indah Sari, Syahrir Baso Pajalesang, Tri Astoto Kodarie, Wahyu Gandi G, Wawan Kurniawan, Yudhistira Sukatanya, Zainal Abidin Ridwan.
Terinsipirasi dari epik La Galigo
Dalam pengantar buku tersebut, Prof Nurhayati Rahman menyambut baik penerbitan buku antologi puisi yang terinspirasi oleh epik La Galigo. Menurut Ibu Nurhayati Rahman, manuskrip epik La Galigo terdiri dari ribuan halaman dan jalinan tokohnya berbelit-belit menempatkannya sebagai karya sastra terpanjang di dunia dengan 300.000 bait melebihi Mahabarata dan Ramayana serta sajak-sajak Iliad dan Odissey karya Homerus. Karena itu, pada tahun 2011 UNESCO menempatkan La Galigo sebagai Memory of the Word ingatan-ingatan dunia. Epik La Galigo sebagai kitab suci dan sumber religi bagi penganut agama orang Bugis sebelum menjadi muslim, dan sebagian sekarang masih banyak pengikutnya di pedalaman, seperti To Lotang di Amparita mewariskan sejumlah tradisi yang saling kait-mengait dengan berbagai upacara suci dan sakral. Dalam upacara suci dan sakral itu selalu diiringi dengan pemotongan hewan dan pembacaan sureq La Galigo. Itulah kemudian yang dikenal dengan upacara: mappano bine (upacara menurunkan benih padi) menjelang tanam padi; maccéraq tasiq (upacara persembahan dewa laut), ménréq baruga (upacara peresmian balairung) tempat berlangsungnya upacara keduniaan berlangsung; mattemu taung(mengunjungi dan menziarahi kuburan leluhur mereka), dan masih banyak lagi. Semua upacara itu, menurut Ibu Nurhayati, dibarengi berbagai kesenian dan pembacaan episode-episode La Galigo yang episodenya disesuaikan dengan isi dan upacara yang berlangsung. Kesenian yang mengiringinya antara lain séré bissu (joget bissu),maggiriq (para bissu menari sambil menusuk badannya dengan badik), massureq (membaca La galigo), maggenrang (bermain gendang), massuling lontaraq (meniup suling diiringi nyanyian La Galigo), mallae-lae dan sebagainya. Seluruh rangkaian upacara ini, menurut Ibu Nurhayati, dilaksanakan oleh tiga komponen yang saling melengkapi, yaitu: 1) Bissu, pendeta trens-gender yang bertugas memimpin upacara ritual, 2) sanro, praktisi di belakang layar yang bertugas menyiapkan seluruh perlengkapan upacara dan 3) passureq, pembaca dan penembang La Galigo.Jadi, Bissu, sanro, passureq dan para dewan adat adalah empat warga Bugis yang merupakan pemelihara dan pengawal terhadap kelangsungan hidup La Galigo. Meskipun demikian, kata Ibu Nurhayati, suara-suara tentang La Galigo sekarang ini nyaris tak terdengar lagi, terjepit di antara kaum tradisi yang masih enggan menurunkan ilmunya karena kesakralannya di satu sisi, dan di sisi lain gegap gempita kemajuan ilmu dan teknologi yang melihat hal-hal yang bersifat non-fisik kurang begitu mendatangkan keuntungan finasial. Kemajuan itu berimplikasi dengan berubahnya selera seni terutama anak muda, penikmat budaya pop yang merasuk sampai ke pelosok-pelosok, membuat La Galigo beserta unsur seni yang mengiringi menggapai-gapai tak berdaya. Hal ini diperparah oleh sistem pendidikan dan kebijakan pemerintah yang tidak memihak pada kelangsungan hidup seni tradisi. Huruf lontaraq misalnya, yang menjadi basis sebagian seni tradisi termasuk pembacaan teks dalam naskah La Galigo (massureq/masselléyang) sebagian besar tidak dapat lagi dibaca dan dipahami oleh generasi muda. Konsumsi media sosial yang sangat massif serta media massa yang sepihak dari pusat ke daerah-daerah menyerbu dan mengepung anak-anak muda sekarang membuat mereka tak berdaya untuk melawan, kecuali mengkonsumsinya tanpa seleksi. Dipastikan hanya sebagian kecil anak-anak muda yang bisa membaca dan memahamni isi naskah Lontaraq,termasuk teks La Galigo. La Galigo yang memiliki unsur-unsur nilai universal dan di itulah rumah kebudayaan mereka, wajah asli mereka, tempat berteduhnya seluruh kearifan masa lampaunya yang kini sudah mulai terancam roboh. Padahal di beberapa negara maju, kata Nurhayati, justru kearifan masa lampunyalah yang menjadi fondasi dalam membangun bangsanya, termasuk bagaimana seniman-seniman mereka mencipta dan meramu imajinasinya dengan mengambil tradisi dan kebudayaan mereka sebagai sumber inspirasi.










