Penjelasan Kronologi Kepala Kesbangpol Adu Mulut Dengan Petugas Posko Perbatasan

Penjelasan Kronologi Kepala Kesbangpol Adu Mulut Dengan Petugas Posko Perbatasan

K
HZ
Kamsah
Hasbi Zainuddin

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Makassar - Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik atau Kesbangpol Kota Makassar, Jamaing menjadi perbincangan publik lantaran videonya viral di media sosial.

Jamaing dalam video tersebut terlibat adu mulut dengan petugas di Posko Perbatasan Syeh Yusuf sebab tidak menggunakan masker.

Menanggapi hal itu, Jamaing menjelaskan kronologi kejadian yang berlangsung pada Minggu Sore, 19 Juli 2020. Ia mengatakan, saat itu, dirinya bersama dengan istri hendak ke pasar untuk membeli keperluan rumah tangga.

"Saya tidak sadari dekat rumah ada posko saya lewati. Ibu pakai masker lalu saya cari masker di mobil biasanya lengkap di mobil ternyata tidak ada," kata Jamaing di Balai Kota, Senin, 20 Juli 2020.

Lalu ia memutuskan putar arah untuk mengambil masker, namun petugas posko kemudian mencegat, "Pak, tidak boleh, minggir," kata Jamaing menirukan perintah petugas posko.

Ia kemudian memutuskan menunggu di mobil dan meminta istrinya mengambil masker di rumah.

"Begitu ibu datang bawa masker lalu saya turun," ungkapnya.

Setelah turun, Jamaing diminta menandatangani surat peryataan lantaran melanggar.

"Kenapa harus kaku begini, Pak, saya kan sudah pakai masker. Mengapa saya harus tanda tangan padahal sudah pakai masker?" kata dia kepada petugas.

"Tidak boleh, Pak. Bapak tidak tahu aturan," kata Jamaing mengulang kata petugas.

Ia pun kemudian meminta maaf, dan mengatakan justru karena dirinya mengerti aturan makanya tidak melewati posko.

"Memang saya khilaf karena biasanya ada masker di mobil," ungkapnya.

Sementara, Asisten I Pemerintah Kota Makassar, Sabri menyayangkan peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa semua harus memakai masker terlebih pejabat pemerintah kota.

"Dia di tahan bahwa dia ternyata baru kembali ambil rumahnya dekat sekali dengan posko, tapi itu kita tidak kita benarkan," ungkap Sabri.

Sabri menilai ada kesalahpahaman yang terjadi secara teknis di lapangan.