Kekerasa atau perang antara bangsa Palestina dan penjajah Israel bukan sesuatu yang baru. Maka sebutan peristiwa Sabtu lalu sebagai sesuatu yang mengejutkan (surprise attack) adalah aneh.
Peperangan itu terjadi dari masa ke masa sejak tahun 1967. Yang berbeda hanya kedahsyatannya (magnitude) saja.
Bayangkan jika Anda punya rumah. Tiba-tiba seorang perampok masuk ke rumah Anda. Lalu Anda disekap dalam kamar sempit.
Lalu perampok itu lambat laun mengakui rumah itu sebagai miliknya.
Lalu di suatu waktu perampok itu lengah, dan Anda punya kesempatan. Anda pun menerkam, bahkan mungkin membunuh perampok itu.
Anda merasa apa yang terjadi itu karena membela hak. Lalu oleh semua tetangga Anda dituduh “pembunuh”. Adilkah tuduhan itu?”.
Sesungguhnya apa yang terjadi Sabtu lalu dan beberapa kali kejadian yang sama sebelumnya bukan hal yang mengejutkan.
Hal itu sangat diantisipasi dan sebenarnya diyakini akan terjadi dari waktu ke waktu. Tapi dunia menyebutnya “kejutan” karena sengaja mengaburkan rentetan peristiwa yang terkait. Termasuk perampokan dan penjajahan yang dilakukan oleh pihak yang satu.
Sekarang “damage has been done” (nasi sudah jadi bubur). Dan nampaknya masih terus akan berlanjut. Israel (tepatnya pemerintahan Natanyahu) bertekad menghabisi Hamas.
Dalam prosesnya yang terjadi adalah keinginan untuk menghabisi warga Palestina di kawasan Gaza yang jumlahnya sekitar 2.5 juta itu. Sebuah ambisi yang saya yakin tidak akan terwujud.










