Ramang bersinar terang tahun 1953

Macan Asia
Status Macan Asia yang disematkan kepada Indonesia sebenarnya tak bisa dilepaskan dari Ramang. Dalam sebuah tur ke Asia Timur pada tahun 1953, Indonesia mampu memenangkan lima dari enam laga yang dipertandingkan, kalah sekali dari Korea Selatan. Menariknya, Ramang mencetak 19 gol dari total 25 gol Indonesia di keenam pertandingan tersebut! Kisah sukses Ramang dan timnas Indonesia tak berhenti di situ. Ia hampir membawa Indonesia ke Piala Dunia 1958 setelah dua golnya menyingkirkan Tiongkok dengan skor agregat 4-3 di babak kualifikasi. Indonesia kemudian melaju ke putaran kedua kualifikasi dan tergabung dengan Sudan, Israel, dan Mesir. Sayang, Indonesia memilih mengundurkan diri lantaran enggan bertanding melawan Israel karena alasan politik. Andai menjadi juara grup, Ramang dkk. bakal lolos ke Swedia untuk melakoni debut pertama Piala Dunia dengan nama Indonesia. Ramang juga turut menginspirasi kesuksesan Indonesia menahan imbang Jerman Timur 2-2 dalam sebuah laga persahabatan di Jakarta pada 1959. Sebelum sukses mengoleksi 20 gol dalam Turnamen Merdeka 1960 di mana Indonesia muncul sebagai juara ketiga.Ramang jatuh miskin
Sayang, kisah mengesankan Ramang di dunia sepakbola tidak semanis nasibnya di kehidupan sehari-hari. Ya, meski punya skill mumpuni, Ramang hidup di sebuah era di mana sepakbola bukanlah sebuah pilihan hidup menjanjikan. Ia sempat menyebut pesepakbola tidak lebih berharga dari kuda pacuan. “Kuda pacuan dipelihara sebelum dan sesudah bertanding, menang atau kalah. Tapi pemain bola hanya dipelihara kalau ada panggilan. Sesudah itu tak ada apa-apa lagi,” katanya. Akibatnya, jeratan kemiskinan tak mampu ia tampik. Bekerja serabutan dengan gaji seadanya ia lakukan demi menyambung hidup keluarganya. Sempat bekerja di Kantor PU Daerah III di Makassar. Kasus suap dalam Skandal Senayan 1962 yang menyeret namanya menggambarkan betapa pesepakbola seperti Ramang kurang diapresiasi sebagai aset nasional. Sejak kasus itu, Ramang dilarang bermain untuk timnas seumur hidup dan nasibnya terus terpuruk. Ia sempat berkarier menjadi pelatih PSM dan Persipal Palu, namun tersingkir secara perlahan akibat tak memiliki sertifikat kepelatihan. Ramang meninggal dunia di usia 59 tahun akibat penyakit paru-paru tanpa bisa berobat di rumah sakit akibat kekurangan biaya. Ironis memang, namun itulah suka-duka Ramang yang kisahnya akan terus dikenang. Namun Ramang sudah berketetapan hati menutup kisah masa lampaunya itu. "Buat apa mengenang masa-masa seperti itu sementara orang lebih menghargai kuda pacuan?" katanya. Kekecewaan itu tampaknya begitu berat merundungnya, hingga ia seringkali sengaja bersembunyi hanya untuk mengelak wawancara dengan seorang wartawan. Meski banyak dorongan dan tawaran buat menulis biografinya, ia selalu menggelengkan kepala. Dulu katanya, memang pernah ada seseorang yang menerbitkan riwayat hidupnya. Tapi ia sendiri sudah lupa judul buku dan nama penulisnya. Betapa pun juga, figur Ramang, mungkin adalah “mithos” sepakbola Indonesia. Disamping rambu peringatan : “Djagalah Ramang Indonesia sebagai warganegara terhormat dengan jasanya yang besar, seorang olahragawan alam (nature-sportman) yang pernah menaikkan martabat negara dan bangsa ditengah forum International.Drama Pasukan Ramang di lapangan hijau
[caption id="attachment_6015" align="alignnone" width="600"]










