Terkini.id, Makassar - Di tepi Kota Parepare, tepatnya di Stadion Gelora BJ Habibie, suasana sepi kerap menyelimuti laga kandang PSM Makassar beberapa pekan terakhir.
Klub dengan sejarah panjang ini kini terperosok dalam deretan masalah yang menghantam dari berbagai arah.
Aliansi Suporter Mattoanging, yang selama ini dikenal sebagai pilar semangat PSM, membuat kejutan dengan memilih vakum dari pertandingan kandang.
Keputusan ini meninggalkan tribun stadion dalam keheningan yang pekat, simbol dari ketidakpuasan yang tengah membara.
Keputusan tersebut diambil setelah keinginan suporter agar harga tiket diturunkan tidak dipenuhi manajemen PSM.
Padahal, sebelumnya, para pendukung ini kerap menciptakan berbagai aksi koreografi hingga nyanyian penyemangat.
Kelompok suporter ini juga memiliki ciri khas tersendiri dalam mendukung klub sepak bola kesayangannya.
Namun, masalah tidak berhenti di tribun. Laporan mengenai utang klub sebesar Rp5,6 miliar kepada Shesie Erisoya, mantan sekretaris dari Munafri Arifuddin (eks CEO PSM Makassar), menambah panjang daftar masalah yang dihadapi manajemen.
Seakan belum cukup, rumor mengenai gaji pemain yang tertunda beredar luas, dengan Yakob Sayuri, salah satu pemain andalan, memberikan sinyal melalui unggahannya di media sosial. Hal ini memunculkan pertanyaan besar tentang kondisi finansial klub.
Di tengah badai ini, Bernardo Tavares, arsitek PSM, berada di bawah tekanan untuk membangkitkan moral dan semangat para pemainnya. Dengan segala ketidakpastian yang ada, masa depan PSM Makassar tampaknya memerlukan lebih dari sekadar strategi di lapangan hijau.
Pelatih asal Portugal ini berharap agar suporter bisa kembali memadati Stadion Gelora BJ Habibie. Apalagi PSM saat ini tengah terseok-seok usai bertengger di peringkat 10 klasemen, dari 4 kemenangan, 3 kali imbang, dan 4 kali kalah.
“Salah satu yang krusial untuk membuntu tim adalah datang ke stadion untuk mendukung klub saat bertanding di pertandingan kandang,” kata Bernardo beberapa waktu lalu.
Keputusan tersebut cukup terasa di dua laga kandang yang dijalani PSM, pertama saat menjamu Persik Kediri, jumlah suporter yang hadir hanya mencapai 1.582 orang. Kemudian saat melawan Persis Solo jumlah penonton hanya mencapai 2.408 orang.
Bernardo pun membandingkan pertandingan kandang PSM di musim lalu yang kerap dipadati suporter sehingga menjadi salah satu faktor utama kesuksesan timnya meraih gelar juara Liga I.










