Jelajah Jala: Menganyam Masa Lalu dan Masa Depan di Benteng Rotterdam Makassar

Jelajah Jala: Menganyam Masa Lalu dan Masa Depan di Benteng Rotterdam Makassar

K
Kamsah

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini, Makassar — Kota Makassar pada awal November tahun ini terasa berdenyut lebih kencang. Bukan semata-mata gelombang aktivitas sehari-hari di pesisir barat Sulawesi Selatan, tapi napas panjang seni dan budaya yang bergema di dalam Benteng Rotterdam, benteng bersejarah yang kini berbalut citra baru sebagai tuan rumah Festival Komunitas Seni Media 2024 (FKSM 2024).

Selama seminggu penuh, mulai dari 3 hingga 9 November, festival seni media terbesar di Indonesia, FKSM 2024, bakal mengubah benteng bersejarah ini menjadi sebuah laboratorium eksperimen yang merayakan pertemuan antara warisan budaya dan inovasi teknologi.

Festival yang dinantikan ini memasuki tahun ke-9, melanjutkan tradisinya sebagai ruang pertemuan berbagai komunitas seni media dan teknologi dari penjuru Indonesia.

Di bawah temaram sinar matahari tropis yang menerpa dinding-dinding batu peninggalan kolonial, FKSM kali ini mengusung tema "Jelajah Jala". Tema yang dipilih oleh tim kurator — Akbar Yumni, Bob Edrian, Ignatia Nilu, Mega Nur, Rachmat Mustamin, Shohifur Ridho’i, dan Yudi Ahmad Tajudin — seakan mengajak berlayar menyusuri jaringan jalinan sejarah, mitos, dan teknologi di Kota Daeng.

Di tengah era digital yang semakin deras, FKSM mencoba merekam dan menghidupkan ingatan kolektif tentang kota ini sebagai pelabuhan budaya, tempat berbagai jejak peradaban bersinggungan dan meninggalkan bekas.

Istilah "Jelajah" menggambarkan perjalanan panjang dalam menelusuri sejarah Benteng Rotterdam dan Kota Makassar. Sementara "Jala" menandakan sebuah jaringan — teknologi laut, komunikasi, dan cerita rakyat Sinrijala yang masih hidup di tengah masyarakat.

"Kami ingin mengajak orang-orang di Makassar dan sekitarnya untuk menyelami seni media lebih dalam, serta mengerti bagaimana seni dan teknologi memberi warna dalam hidup kita sehari-hari," ujar Direktur FKSM 2024, Yudi Ahmad Tajudin.

Bagi Yudi, FKSM lebih dari sekadar rangkaian pameran atau pertunjukan — festival ini menjadi jembatan yang menghubungkan antara kota dan masyarakat, sejarah dan masa kini, seni dan teknologi.

Festival ini bukanlah pendatang baru di dunia seni media di Indonesia. Di masa lalu, FKSM pernah dikenal sebagai Pekan Seni Media yang dimulai pada 2015.

Sejak saat itu, ia merambah dari kota ke kota, membawa aroma seni kontemporer ke berbagai pelosok negeri — dari Bandung hingga Pekanbaru, Palu hingga Lombok, membangkitkan percikan ketertarikan pada seni media di tengah masyarakat lokal.