Terkini.id, Jakarta - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen menyebutkan negeri itu kemungkinan bakal jatuh dalam resesi. Peringatan itu akan menjadi kenyataan jika Kongres dinyatakan gagal menyetujui RUU batas pinjaman pemerintah federal dalam waktu dekat.
Jika aturan tak keluar, pemerintah tak bisa menambah dana baru untuk membayar utang. Hal Ini menjadi implikasi pada kemungkinan gagal bayar (default) AS yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah negeri itu.
"Saya menganggap 18 Oktober sebagai tenggat waktu," kata Yellen dalam wawancara dengan CNBC "Squawk Box" dikutip Rabu 6 Oktober 2021.
"Akan menjadi bencana besar," ujarnya . "Saya sepenuhnya melihat ini akan menyebabkan resesi."
Di sisi lain presiden AS Joe Biden, meminta Kongres menaikkan batas utang minggu ini. Ia menegaskan untuk menghindari gejolak ekonomi yang hampir pasti.
Biden yang seorang Partai Demokrat menyalahkan pimpinan Republik di Senat Mitch McConnel. Ia dianggap menghalangi UU yang akan mengangkat batas pinjaman.
Sebelumnya RUU itu disetujui DPR AS. Pekan lalu, pembahasan dibawa ke Senat AS, mengingat konsep legislatif yang dua kamar, Senat Republik bersatu menggalkannya.
Melansir dari CNBC Indonesia, Saat ini batas utang pemerintah AS adalah US$ 28,4 triliun.
Dengan asumsi US$ 1 setara dengan Rp 14.315 seperti kurs tengah Bank Indonesia (BI) 1 Oktober 2021, jumlah itu menjadi Rp 406.546 triliun.
Agar pemerintah tidak shutdown, Biden sudah meneken beleid untuk mendanai kebutuhan pemerintahan hingga 3 Desember 2021. Ini sebelumnya dianggap Senat Republik jalan terbaik dibanding menambah utang.
Masalah belum selesai. Aturan itu terbatas, hanya menjadi payung hukum untuk anggaran operasional pemerintahan dan kebutuhan yang sudah dianggarkan sebelumnya seperti penempatan pengungsi Afganistan sebesar US$ 6,3 miliar dan bantuan korban bencana US$ 28,6 miliar.
"Saya menganggap 18 Oktober sebagai tenggat waktu," tegas Yellen dalam wawancara dengan CNBC "Squawk Box" yang dikutip Rabu 6 Oktober 2021.
"Akan menjadi bencana besar," ujarnya lagi. "Saya sepenuhnya melihat ini akan menyebabkan resesi."
Sementara itu Presiden AS Joe Biden meminta Kongres menaikkan batas utang minggu ini. Ia menegaskan ini untuk menghindari gejolak ekonomi yang hampir pasti.
Biden yang seorang Partai Demokrat menyalahkan pimpinan Republik di Senat Mitch McConnel. Ia dianggap menghalangi UU yang akan mengangkat batas pinjaman.
Pasalnya sebelumnya RUU itu disetujui DPR AS. Namun pekan lalu, ketyika pembahasan dibawa ke Senat AS, mengingat konsep legislatif yang dua kamar, Senat Republik bersatu menggalkannya.
Saat ini batas utang pemerintah AS adalah US$ 28,4 triliun. Dengan asumsi US$ 1 setara dengan Rp 14.315 seperti kurs tengah Bank Indonesia (BI) 1 Oktober 2021, jumlah itu menjadi Rp 406.546 triliun.
Sebelumnya agar pemerintah tidak shutdown, Biden sudah meneken beleid untuk mendanai kebutuhan pemerintahan hingga 3 Desember 2021. Ini sebelumnya dianggap Senat Republik jalan terbaik dibanding menambah utang.
Namun masalah belum selesai. Aturan itu terbatas, hanya menjadi payung hukum untuk anggaran operasional pemerintahan dan kebutuhan yang sudah dianggarkan sebelumnya seperti penempatan pengungsi Afganistan sebesar US$ 6,3 miliar dan bantuan korban bencana US$ 28,6 miliar.
referensi: https://www.cnbcindonesia.com/news/20211006070248-4-281722/gawat-as-terancam-resesi-yellen-kasih-warning










