Terkini, Gowa – Kegiatan Jambore Kepala Desa se-Sulawesi Selatan yang diikuti 2.266 kepala desa dari seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan menjadi forum konsolidasi untuk memperkuat peran desa dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.
Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, pada hari ketiga Jambore Kepala Desa se-Sulawesi Selatan Tahun 2025 yang digelar di Rindam XIV/Hasanuddin, Pakatto, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Sabtu (13/12/2025).
Rangkaian kegiatan dimulai sejak dini hari dengan salat Subuh berjamaah dan sarapan bersama. Kegiatan dilanjutkan dengan pembekalan dari Kapolda Sulsel mengenai dukungan Polri dalam menjaga keamanan dan ketertiban desa, serta paparan Kajati Sulsel terkait pentingnya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan desa.
Materi berikutnya disampaikan oleh Direktorat Jenderal Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri yang membahas sistem keuangan desa terintegrasi dan disiplin anggaran. Setelah ishoma, peserta mengikuti pelatihan kepemimpinan dan kedisiplinan yang menekankan wawasan kebangsaan dan bela negara.
Sore hari, peserta menerima pembekalan dari Menteri Kehutanan terkait pengelolaan hutan berbasis masyarakat dan kearifan lokal. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan peran strategis kepala desa sebagai garda terdepan dalam menjaga kelestarian hutan dan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Menurut Menhut, keterlibatan aktif kepala desa sangat penting dalam upaya pelestarian lingkungan, mengingat desa berada pada garis terdepan pengelolaan wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan dan DAS.
Ia mengangkat filosofi kearifan lokal Bugis–Makassar Sulapa Eppa’ Walasuji sebagai simbol keseimbangan unsur alam yang relevan dengan kebijakan kehutanan nasional. Menurutnya, filosofi tersebut mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan.
“Saya percaya kearifan lokal seperti Sulapa Eppa’ Walasuji bukan sekadar simbol budaya, tetapi nilai yang hidup dan dapat menjadi landasan dalam menjaga keseimbangan hutan, air, dan kehidupan masyarakat desa,” ujar Raja Juli Antoni.
Menhut juga menyoroti kekayaan keanekaragaman hayati Sulawesi Selatan serta capaian perhutanan sosial nasional seluas 8,3 juta hektare, dengan 423 ribu hektare berada di Sulsel.
Pada malam hari, rangkaian kegiatan ditutup dengan ceramah agama oleh Ustaz Mufassir Alif, Lc., M.A., dilanjutkan doa bersama serta malam penganugerahan dan penyerahan penghargaan kepada desa dan kelurahan berprestasi.










