Terkini.id, Jakarta - Enzo Zenz Allie (18), warga negara Indonesia keturunan Perancis, tercatat sebagai calon taruna Akademi TNI tahun 2019. Enzo bertekad menjadi prajurit Infanteri dan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD.
Dalam keterangan tertulisnya, Aspers Kasad Mayjen Heri Wiranto mengatakan, keinginan Enzo menjadi prajurit Infanteri dan Kopassus tersebut disampaikan dalam kegiatan penerimaan TNI dengan sidang Panitia Penentuan Akhir (Pantukhir) terpusat yang dipimpin Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Andika Perkasa, Jumat, 2 Agustus 2019, lalu, di Gedung Lily Rochli, Akmil, Magelang.
"Dalam acara itu terdapat calon taruna Akmil yang menarik perhatian Panglima TNI dan para kepala staf angkatan, yaitu Enzo Zenz Allie. Yang bersangkutan merupakan anak yatim yang memiliki kemauan keras untuk menjadi prajurit Infanteri dan Kopassus," kata Heri.
Namun baru-baru ini beredar kabar jika Enzo telah terpapar radikalisme. Pernyataan itu ramai dilontarkan netizen usai melihat foto profil Enzo di media sosial sedang membawa bendera Tauhid.
Foto itu kini tengah heboh dan menjadi perbincangan hangat warganet.
[caption id="attachment_168451" align="alignnone" width="640"] Foto profil Enzo (taruna Akmil) yang membawa bendera Tauhid. (Foto: Kumparan)[/caption]
Menanggapi kabar tersebut, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, TNI harus mengindentifikasi lebih dalam sosok Enzo. Bila foto itu ada kaitannya dengan khilafah, Ryamizard meminta Enzo diberhentikan.
"Kalau benar saya suruh berhentiin. Makanya dicek dulu, kalau dia benar-benar khilafah, ya enggak ada urusan (berhentikan)," kata Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, dikutip dari Kumparan, Rabu 7 Agustus 2019.
Pemberhentian itu, kata Ryamizard, juga berlaku untuk anggota TNI lain yang juga terindikasi terpapar paham radikal atau khilafah.
Bila perlu, lanjutnya, TNI terus menelusuri apakah masih ada anggotanya yang terpapar paham radikal dan khilafah.
"Enggak ada urusan. Saya cari-cari dari Sabang sampai Merauke, mau cari itu ada di depan mata saya. Copot saja," ujar dia.
Mantan KSAD itu menyebut, TNI sebenarnya punya cara untuk mendeteksi adanya anggota yang terpapar, yakni dengan penelitian khusus (litsus). Litsus berlaku bagi anggota yang dalam perjalanannya sudah tidak Pancasilais lagi.
"Sekarang kita litsus harus, semua. Waktu Orba kan ada, sekarang orang banyak yang begini, jadi begini, ndak boleh, harus dilitsus, terutama litsusnya adalah masalah pancasila. Pancasila apa tidak? Tentara itu menjalankan Pancasila," kata Ryamizard.
"Kalau tidak dukung Pancasila kok mau jadi tentara. Itu namanya pengkhianat, saya enggak suka pengkhianat," tegasnya.