Haji itu Miniatur Kehidupan Manusia

Haji itu Miniatur Kehidupan Manusia

EP
Shamsi Ali
Echa Panrita Lopi

Tim Redaksi

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Deklarasi ini dikenal dalam sejarah Islam dengan “Khutbatul Wada’”.

Makna kedua dari pemaknaan globalitas ini adalah bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kemanusiaan itu.

Dan karenanya ketika menggambarkan “kemuliaan” (karomah) manusia, Allah menekankan aspek insaniyah “Sungguh Kami (Allah) telah muliakan anak cucu Adam”.

Demikian pula Islam menekankan kekeluargaan universal manusia: “Wahai manusia sesungguhnya Kami mencipatakan kamu dari seorang pria dan seorang wanita, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

Sesungguhnya yang termulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa....” (Al-Quran).

Ekspresi globalitas Islam ini sekaligus menampik perasaan lebih Islami oleh sebagian pengikutnya karena defenisi ras atau bangsa.

Islam memberikan ruang kepada semua pengikutnya untuk menjadi terbaik. Tidak menutup kemungkinan seorang China Muslim akan lebih Islami dibandingkan seorang Arab Muslim.

Islam sendiri menempatkan semua dasar-dasarnya dengan penampilan global. Tuhan dalam Islam itu “Rabbil alamin” atau “Rabunnaas”.

Muhammad SAW itu adalah “rahmatan lil-alamin” dan diutus kepada seluruh manusia (kaafatan linnaas). Dan Al-Quran itu adalah petunjuk bagi seluruh manusia (hudan linnaas).

Makna ketiga dari panggilan “kemanusiaan” haji adalah bahwa Islam adalah agama dengan pemeluk yang paling mengglobal.