Terkini.id, Jakarta – Kepala Biro Perhubungan DPP Partai Demokrat, Abdullah Rasyid mengingat Presiden Joko Widodo alias Jokowi agar jangan sampai meninggalkan warisan berupa “Failed State” atau negara gagal.
Pasalnya, Abdullah Rasyid menilai bahwa ciri-ciri failed state di bawah Pemerintahan Jokowi semakin terlihat.
“Jangan sampe Jokowi tercatat sejarah meninggalkan warisan "Failed State" bagi generasi. Ciri-cirinya semakin terlihat!” katanya melalui akun Twitter pribadinya pada Selasa, 9 November 2021.
Abdullah Rasyid mengatakan sebagai respons terhadap cuitan Deputi Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Ricky Kurniawan.
Adapun dalam cuitannya, Ricky Kurniawan membagikan artikel berjudul “Bukti ‘Tsunami’ Kebangkrutan di Indonesia Kian Nyata”.
“Hadapai dan cari solusinya! Jangan sibuk pencitraan seolah olah kegeri ini baik baik saja dengan mengerahkan buzerp,” kata Ricky Kurniawan.
“Kurangi ambisi proyek mercusuar dan mulai lebih membangun manusianya!” sambungnya.
Dilansir dari artikel CNBC Indonesia, kebangkrutan semakin nyata terlihat di Indonesia. Pasalnya, sejumlah toko ritel dan mall di beberapa wilayah bangkrut, bahkan dikabarkan tutup walaupun aktivitas akibat pandemi mulai dilonggarkan.
Bukan hanya itu, banyak toko di pusat perbelanjaan yang overkredit alias berpindah tangan pada penyewa lain meskipun kontrak belum habis.
Selain itu, banyak pusat perbelanjaan yang juga direncanakan dijual.
“Ada yang dilego, itu ada masalah sebelum-sebelumnya bisa,” kata Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo), Budihardjo pada Rabu, 3 November 2021.
Menurutnya, masalah ini bisa dipulihkan dengan transaksi penjualan. Sayangnya, ide ini sulit dilakukan karena daya beli masyarakat yang menurun.
Bahkan, menurut Budihardjo, diskon juga sulit karena banyak usaha yang masih dalam keadaan sulit.
“Itu yang harus segera diberikan bantuan semua pihak, sehingga kita bisa dapat pelunasan untuk melunasi kewajiban-kewajiban,” ujarnya.
Sementara itu, penjualan mall juga terus berlanjut. Menurut Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonsus Widjaja, sudah ada 7 mall dijual dan 1 mall ditutup.
Menurut Alphonsus, cukup sulit menentukan berapa banyak mall yang dijual atau ditutup sebab tidak semua pusat perbelanjaan yang akan dijual melaporkan ke asosiasi.
Namun, apabila menghitung dengan ritel, maka lebih banyak yang akhirnya tutup.
"Kita bedakan pusat perbelanjaan yang menyewakan tempat ke ritel, dengan ritel atau penyewanya. Kalau ritel jauh lebih banyak yang menjual (usahanya),” katanya pada Kamis, 28 Oktober 2021.










