Terkini.id, Jakarta - Pada acara podcast “Close The Door” Deddy Corbuzier, Kepala Staff Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Dudung Abdurachman bercerita pernah pungut otak prajuritnya yang tertembak dalam misi perang di Timor Timur.
Pada video yang diupload di Youtube pada Selasa 30 November 2021 itu, Deddy Corbuzier mengundang Jenderal Dudung menjadi bintang tamu pada acara podcastnya.
Pembicaraan mulai mengalir santai. Hingga Deddy mulai mengarahkan topik pembicaraannya tentang pengalaman perang.
“Perang pernah nggak pak?” tanya Deddy mulai mengarahkan topik pembicaraan.
“Saya pertama lulus letnan 2 tahun (1988), saya di Timor Timur tujuh tahun. Ya perang kerjanya,” jawab Dudung.
Jenderal Dudung bercerita, bahwa dulu sewaktu masa perang di Timtim, dia membawa tim khusus.
Personel yang tergabung dalam tim khusus adalah orang-orang pilihan, putra terbaik daerah.
Ketika kompi dan pleton menyebar, tim khusus yang akan maju langsung menusuk ke sasaran musuh. Atas alasan itulah anggota tim khusus harus memiliki fisik yang sangat kuat.
“Kalau ngomongnya perang ada kemungkinan meninggal, ada kemungkinan ketembak… emang ngga ada rasa takut?” tanya Deddy.
Dudung menegaskan, dalam tugas operasi seperti ini memang resikonya mati.
“Enak banget ngomongnya,” sambung Deddy sambil tertawa.
Dudung melanjutkan, bahwa ia pernah memungut otak prajuritnya yang tertembak tepat di kepala. Saat itu, Dudung menginformasikan kepada prajurit yang lain agar berhati-hati ketika masak di sekitar pegunungan. Sebaiknya ketika hendak masak di daerah bawah saja di sekitar sungai Beluri.
Informasi Dudung diikuti oleh prajurit. Namun, ada satu prajurit yang justru naik ke pegunungan mencari batu sebagai tumpuan dapur. Tiba-tiba, sebuah peluru menyasar tepat di kepalanya.
“Naik ke atas, dihajar kepalanya, jebol. Pecah di belakang. Saya ke tempat jenazah itu. Ada evakuasi (helikopter). Udah gitu, saya masuk-masukin tuh otaknya ke dalam kepalanya tuh,” tutur Dudung sambil menirukan gerakannya.
Mendengar itu Deddy bergidik ngeri. Ia langsung balik badan memukul-mukul tembok di belakangnya.
“Lu kira (kue) klepon,” jawab Deddy yang masih terbawa suasana.










