Terkini.id, Jakarta - Novel Bamukmin selaku Wakil Sekretaris Jenderal Persaudaraan Alumni (Wasekjen PA 212) memberikan komentarnya terkait sindiran dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Novel Bamukmin menegaskan bahwa pihaknya hanya membela agama Islam dan aksi mereka selama ini tidak memiliki unsur kepentingan politik seperti yang dituduhkan.
"Perlu kami ingatkan dari Aksi Bela Islam 212 dari yang pertama sampai berjilid-jilid sampai saat ini jauh dari kepentingan politik praktis karena kami bukan orang partai dan bukan dari underbow pantai manapun karena hanya fokus bela agama Islam dan sampai saat ini pun kami sampai bela rakyat tanpa pandang bulu," ujar Novel Bamukmin, Minggu 6 November 2022.
Lebih lanjut, Novel Bamukmin meminta kepada para pihak agar berhenti memiliki prasangka yang buruk terhadap PA 212.
Pria yang sempat menawarkan diri ingin menjadi pendamping Anies Baswedan ini juga berpesan kepada PBNU untuk tidak membela kepentingan penguasa supaya Indonesia tidak menjadi negara yang terpecah belah.
"Saya berharap agar oknum NU itu tobat lah untuk memecah belah bangsa demi diduga hanya untuk membela kepentingan penguasa dan oligarki dan jangan suka menuduh kelompok kami dengan hal yang negatif, karena tujuan kami insyaallah ikhlas karena Allah, dan semua yang tau adalah Allah bukan oknum orang NU tersebut karena kita umat Islam menghukumkan yang zahir (tuntutan jelas) bukan menghukumkan yang bathin, karena niat untuk kepentingan politik praktis atau bukan yang tahu itu Allah," katanya.
Novel Bamukmin berujar bahwa selama ini anggota PBNU yang terlibat dalam kasus pelanggaran hukum, bukan pihaknya.
"Saya rasa pendapat itu hanya pendapat pribadi saja atau oknum dari faktor struktural karena komen seperti itu maling teriak maling maka nggak aneh buat saya pribadi dimana akhirnya banyak oknum di PBNU atau NU yang lain jadi maling beneran seperti bendaharanya maling, ketum partainya maling, menterinya maling, rektornya maling, Profnya maling, karena kata Rasulullah bersabda 'Apabila kamu melihat seorang ulama dekat dengan penguasa maka ketahuilah bahwa dia maling'," tuturnya.
"Maka banyak oknum ulama di PBNU yang menjilat kekuasaan sehingga menjadi ulama suu'/ulama jahat/ulama maling sehingga sudah tidak bisa lagi melihat dengan jernih mana yang hak dan batil dan mana yang untuk kepentingan politik dan bukan,” lanjutnya.
Sebagai informasi, Rahmat Hidayat selaku Wasekjen PBNU menyatakan pendapatnya terkait peristiwa demo 411 serta rencana reuni PA 212.
Rahmat Hidayat menilai sudah semestinya para pihak berhenti menggunakan politik identitas dalam setiap aksinya.
"Untuk semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung, kita minta untuk menghentikan semua gerakan yang memecah belah kesatuan bangsa. Kedepankan politik gagasan, setop politik identitas," ucap Rahmat Hidayat.
"Kita perlu persatuan. Kebersamaan akan membuat kita kuat sebagai bangsa," tambahnya.
"Politik identitas fakta sejarahnya hanya memecah belah bangsa dan rakyat, maka mencegahnya adalah keharusan bagi kita semua," pungkasnya.
Sumber: detik.com










