Terkini.id Jakarta – Rektor Institut Teknologi Kalimantan, Prof. Ir. Budi Santosa Purwokartiko, Ph.D diduga intoleran saat melakukan wawancara seleksi Beasiswa LPDP.
Dugaan intoleran Prof Budi Santosa ini mendapat kecaman dari pengguna media sosial dan mengatakan bahwa seorang akademisi seharusnya dapat berfikir jernih dan menjadi contoh yang baik untuk masyarakat.
“Bahaya banget ini, stigma SARA dilontarkan oleh seorang akademisi yang seharusnya bisa berpikir jernih. Apakah misalnya istri Wapres @Kiyai_MarufAmin yang menutup kepalanya juga manusia guru?”, tulis akun @berlianidris, dikutip Sabtu, 30 April 2022.

Kalimat dalam postingan Prof Budi Santosa mengandung kesan dia lega karena calon penerima besasiswa yang ia wawancarai tidak memakai penutup kepala dan tidak menggunakan kata Insha Allah.
Dalam kesempatan wawancara itu, Prof Budi Santosa mengatakan pemilikihan kata yang digunakan oleh calon penerima beasiswa jauh dari kata langit yakni bahasa-bahasa Qodarullah, dll.
“Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insallah, barakallah, syiar, qadarullah, dsb. Generasi ini merupakan bonus demografi yang akan mengisi posisi-posisi di BUMN, lembaga pemerintah, dunia Pendidikan dan sektro swasta beberapa tahun yang akan datang”, tulis Prof Budi Santosa, dikutip dari screenshot yang dibagikan akun @berlianidris.

Selain itu, Prof Budi Santosa juga menyinggung masalah busana yang digunakan seperti penutup kepala yang menurutny seperti manusia gurun.
“Jadi, 12 mahasiswai yang saya wawancarai, tidak satupun menutup kepala ala manusia gurun”, tulisnya lagi.
Dia mengatakan mahasiswi yang ia wawancarai semuanya dengan pikiran terbuka dan menurutnya akan mencari Tuhan ke beberapa negara maju, bukan ke negara yang orang-orangnya hanya mampu bercerita tanpa membuktikan karya teknologi.
“Otaknya benar-benar openmind. Mereka mencari Tuhan ke negara-negara maju seperti Korea, Eropa Barat dan US, bukan ke negara yang orang-orangnya pandai bercerita tanpa karya teknologi”, tulis Prof Budi Santosa.
Sontak, postingan Prof Budi Santosa dikecam warganet yang menilai seharusnya seorang akademisi mampu jadi penengah polarisasi di tengah masyarakat.

“Orang yang punya Pendidikan tinggi mestinya justru bisa jadi penengah polarisasi di masyarakat. Sampean-sampean ini orang cerdas. Kuliah sampe dapat gelar Ph.D juga pasti nggak gampang. Suram kalau sampai mainin stigma SARA receh kayak gini”, tulis netizen.










