Dg Caya Terombang-ambing 5 Jam Sambil Menyaksikan Rumahnya Hancur Lebur

Dg Caya Terombang-ambing 5 Jam Sambil Menyaksikan Rumahnya Hancur Lebur

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Terkini.id, Jeneponto - Rata-rata warga di sejumlah desa yang diterjang banjir bandang di Jeneponto tidak percaya genangan air yang datang hari itu berubah menjadi air bah dahsyat dan membawa rumah-rumah mereka. Pada hari kejadian, Selasa siang 22 Januari 2019, warga di Dusun Sampeang, Desa Kayuloe Barat misalnya, tetap melaksanakan aktivitasnya. Salah seorang warga yang lebih duluan melihat air bah yang datang, adalah Daeng Gessong. Pria paruh baya ini melihat air bah yang datang dari belakang rumahnya. "Waktu air datang, saya langsung pergi ke selamatkan lima ekor kambingku ke rumah keluarga," ceritanya, Kamis 24 Januari 2018. Meskipun, kambingnya tetap hanyut dibawa banjir. [caption id="attachment_135928" align="alignnone" width="1080"]Dg Caya Terombang-ambing 5 Jam Sambil Menyaksikan Rumahnya Hancur Lebur Rumah yang hancur akibat banjir bandang di Dusun Sampeang, Desa Kayuloe Barat, Jeneponto, Jumat 25 Januari 2019.(terkini.id/hasbi)[/caption] Daeng Gessong adalah salah satu warga yang sempat dibawa hanyut oleh air bah. Karena setelah membawa kambing, dia juga sempat menyelamatkan anak tetangganya yang hampir hanyut. "Setelah itu saya naik ke atap rumah. Tapi rumah itu hanyut dibawa arus air bah," ceritanya. Beruntung, Gessong terseret ke pinggir arus air yang tidak deras dan bertahan berjam-jam hingga air mulai surut. Warga lainnya, Dg Caya, juga tidak menyangka air akan naik dan membawa hanyut rumahnya yang terbuat dari kayu. Saat air sudah mencapai lantai rumah panggungnya, dia langsung melompat bersama suaminya. https://www.youtube.com/watch?v=w8kXkOVJi_o Untungnya, Dg Caya bisa langsung memeluk tiang rumah tetangganya yang terbuat dari semen, dan bertahan hingga kurang lebih lima jam sebelum akhirnya diselamatkan. Di depan matanya, rumah panggung dari kayu tempat dia hidup puluhan tahun bersama kelaurganya, bergeser hanyut terbawa arus yang kencang, lalu hancur berantakan karena menabrak sebuah pohon mangga. [caption id="attachment_135923" align="alignnone" width="1080"]Dg Caya Terombang-ambing 5 Jam Sambil Menyaksikan Rumahnya Hancur Lebur Rumah Dg Caya yang tersisa puing-puing di Kampung Sampeang, Desa Kayuloe Barat, Jeneponto, Kamis 24 Januari 2019.(terkini.id/hasbi)[/caption] "Saya peluk terus tiang rumah itu. Ada ular hingga kalajengking yang lewat, saya tetap bertahan," ucap perempuan paruh baya tersebut. Tetangga yang menyelamatkan Caya, yakni Dg Gau, menggunakan kabel listrik yang sudah tak dialiri setrum, sebagai tali yang diikatkan di pohon dan tiang-tiang yang bertahan. Kabel tersebut kemudian digunakan untuk menuntun dan mengevakuasi warga lain yang terjebak di atap rumahnya, lantaran banjir yang tingginya sekitar tiga meter, dan arus yang deras. [caption id="attachment_135925" align="alignnone" width="1080"]Dg Caya Terombang-ambing 5 Jam Sambil Menyaksikan Rumahnya Hancur Lebur Rumah yang hancur akibat banjir bandang di Dusun Sampeang, Desa Kayuloe Barat, Jeneponto, Jumat 25 Januari 2019.(terkini.id/hasbi)[/caption] Warga di dekat aliran sungai itu, mengaku banjir bandang mulai terjadi sekitar pukul 13.00 WITA siang. Hari itu, tidak ada hujan deras. "Jadi waktu orang di bawah rumah berteriak banjir, saya yang duduk di atas rumah mengira itu bercanda," cerita Daeng Embo. Lalu, siang itu, air yang cuma setinggi tumit hanya dalam hitungan menit naik menjadi setinggi pinggang dan terus naik. Embo yang sadar air naik drastis, langsung keluar dari rumahnya dan lari ke tempat yang lebih tinggi.

13 Orang Tewas

Hingga Jumat 31 Januari 2018, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jeneponto mencatat sudah 13 orang meninggal dunia akibat banjir bandang di Kabupaten tersebut. Selain itu, masih ada 4 orang yang dinyatakan hilang dan sebanyak 709 rumah rusak karena hanyut atau terseret banjir. Sejumlah kampung yang terdampak bencana banjid Bandang di Jeneponto, seperti Desa Sapanang, Kampung Sampeang Desa Kayuloe Barat, Lingkungan Balang, Bangkeng Tete, Kalukuang, Pakkaterang, Balang Toa, hingga Lembang Loe.