Data Riset: Vaksin Menyelamatkan Anda dari Kematian

Data Riset: Vaksin Menyelamatkan Anda dari Kematian

HZ
Hasbi Zainuddin

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Makassar - Angka kasus Covid-19 di Indonesia, tingkat kematian dan kondisi kesehatan masyarakatnya seharusnya bisa membuat pemerintah dan publik memahami tentang pentingnya mencegah dan melakukan upaya antisipasi yang lebih aktif.

Jika melihat grafik cakupan vaksinasi di Indonesia dalam setahun terakhir, yang berkejaran dengan angka peningkatan kematian dan kasus baru covid-19, dapat dipahami bahwa salah satu ikhtiar terbaik untuk mengendalikan risiko buruk akibat pandemi ini adalah vaksin.

Dari data Center for Systems Science and Engineering (CSSE) Johns Hopkins University (JHU), kita bisa melihat angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai puncaknya pada Agustus 2021 lalu, di mana korban meninggal dunia mencapai rata-rata 1.780 orang dalam sepekan. Sementara penambahan kasus baru Covid-19 rata-rata 40.000 kasus dalam sepekan.

Data Riset: Vaksin Menyelamatkan Anda dari Kematian
Data Riset: Vaksin Menyelamatkan Anda dari Kematian

Saat itu, cakupan vaksinasi baru mencapai sekitar 15 persen untuk dosis kedua berdasarkan situs Kementerian Kesehatan.

Data Riset: Vaksin Menyelamatkan Anda dari Kematian

Selanjutnya coba bandingkan dengan angka kematian akibat Covid-19 saat cakupan vaksinasi dosis dua sudah mencapai setidaknya 56 persen pada 20 Februari 2022.

Awal Februari 2022 hingga puncaknya pada 22 Februari, rata-rata kasus baru mencapai 55.675 kasus dalam sepekan. Namun tingkat kematian akibat Covid-19 jauh lebih kecil dari tahun sebelumnya dengan puncak rata-rata 402 orang meninggal dalam sepekan, pada 8 Maret 2022.

Pakar Penyakit Menular yang juga Mantan Direktur WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan, dunia memang sedang dalam proses transisi dari pandemi menuju epidemi dan sedang dalam proses perbaikan.

Akan tetapi, tidak sepenuhnya bisa diprediksi apakah angka kasus Covid-19 akan terus turun atau kembali naik. "Tergantung jika muncul lagi varian baru, karena tidak satu pun yang tahu akan ada varian baru yang berbahaya atau tidak," ungkap Tjandra Yoga saat berbicara dalam Pelatihan Terkait Komunikasi Risiko dalam Krisis Kesehatan yang digelar Australia-Indonesia Health Security Partnership (AIHSP) bekerja sama dengan AJI, Selasa 5 April 2022 lalu.

Sepanjang kemungkinan-kemungkinan itu bisa diantisipasi, dia sepakat dengan pemerintah bahwa situasi saat ini sudah terkendali dan lebih baik dari sebelumnya.

Lebih jauh, Tjandra menekankan hal yang bisa dilakukan untuk mencegah kemungkinan angka kasus melonjak, adalah vaksinasi yang seharusnya bisa ditingkatkan lagi. Tjandra lebih memilih menggunakan data vaksinasi covid-19 dari WHO yang menyebutkan cakupan vaksin dosis lengkap di Indonesia masih di angka 55,8 persen terhadap populasi penduduk. Angka ini masih rendah dibandingkan dengan angka vaksinasi dunia yakni 57,1 persen per 21 Maret 2022 lalu.

Sehingga perlu upaya keras untuk meningkatkan angka itu. Apalagi untuk mencapai target 70 persen. Cakupan booster saat ini juga dianggap Tjandra masih terlalu rendah hanya 7,87 persen per 21 Maret 2022.

Menolak vaksinasi dengan alasan komorbid atau lansia menurut Tjandra akan menjadikan sangat banyak populasi warga yang tidak divaksin. Ironisnya, bertambahnya penderita komorbid yang tidak divaksinasi akan memicu tingkat kematian makin tinggi.

"Komorbid kan, misalnya orang seperti saya. Umur 67 tahun, nggak ada orang yang kayak saya yang tidak ada komorbidnya. Saya makan obat hipertensi, kolesterol. Jadi banyak orang yang punya penyakit. Kalau kita lihat data survei kesehatan rumah tangga kita, cukup banyak yang punya komorbid, seperti hipertensi, kolesterol, asam urat," ungkapnya.

Berdasarkan data Riskesdas (Riset Data Kesehatan) Sulawesi Selatan tahun 2018, tercatat penyakit dengan tingkat pravalensi tertinggi adalah hipertensi.

Penyakit-penyakit yang didata antara lain asma dengan prevalensi 2,54 persen, diabetes melitus 1,3 persen (untuk usia 65-74 tahun 5,48 persen), penyakit jantung 1,46 persen (usia 65-74 tahun 3,57 persen), hipertensi 7,22 persen (tertinggi di Kabupaten Jeneponto 9,7 persen).

Jika dilihat lebih jauh lagi, angka prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis dokter untuk usia 65-75 tahun di Sulsel mencapai 20,33 persen. Jika berdasarkan hasil pengukuran penduduk, angka prevalensi hipertensi bahkan mencapai 31,6 persen, dan khusus usia 65-75 tahun, mencapai hingga 67,74 persen.

Penyakit lainnya, yakni stroke, prevalensinya mencapai 10,6 persen, gagal ginjal kronis 0,37 persen, hingga penyakit sendi 6,39 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Bachtiar Baso mengungkapkan, dalam kasus Sulsel kebanyakan vaksin ditolak bukan oleh pengidap komorbid tetapi keluarganya, khususnya anak.

"Ini memang problem. Para lansia ini bukan orangnya yang tidak mau, tetapi anaknya yang melarang karena takut. Padahal kita sudah lihat, efek samping vaksinasi Covid-1 ini tidak berbahaya. Banyak orang tua lansia tidak ada-apa setelah divaksinasi, walaupun ada komorbid," keluh Bachtiar Baso.

Dia juga mengingatkan, proses vaksinasi yang dilaksanakan juga melalui proses screening (penyaringan). "Kalau hipertensi (tekanan darah) 180, atau kadar gula darah sekitar 300, mungkin ditunda dulu," ungkap Bachtiar.

Khusus untuk Makassar Bachtiar mengatakan telah menekankan kepada pemerintah kota agar target vaksinasi didatangi door to door oleh aparat pemerintah tingkat kelurahan dan kecamatan.

"Di setiap kecamatan, di puskesmas, tersedia gerai-gerai vaksin. Juga ada sembilan armada mobil vaksinasi kita yang beredar terus ke daerah," kata dia.

Meski kasus Covid-19 di Sulsel sudah ditekan bahkan hingga nol kasus, vaksinasi tetap dilakukan sebagai bentuk kewaspadaan. "Program vaksinasi tidak boleh berhenti. Karena kalau kita lihat, di China, kasus Covid-19 kembali naik padahal sudah hampir zero," kata dia.

Selama pandemi berlangsung 2020-April 2022, pemerintah mencatat Covid-19 di Sulawesi Selatan mencapai 143.360 kasus dengan 2.460 korban meninggal (CFR 1,7 persen).

Secara nasional, angka kasus covid-19 mencapai 6,04 juta kasus dengan tingkat kematian 156.240 (CFR 2,6 persen).

Angka di atas merupakan data resmi pemerintah sementara angka sesungguhnya diperkirakan jauh lebih besar. Mengacu pada perkiraan WHO dengan pendekatan excess death, kematian akibat Covid-19 di Indonesia sepanjang 2020-2021 diperkirakan mencapai 1,02 iuta jiwa.

Vaksinasi untuk Komorbid Diambilalih Rumah Sakit

Data Riset: Vaksin Menyelamatkan Anda dari Kematian
Suasana vaksinasi di RSUP Tadjuddin Halid Makassar, 25 Mei 2022.(terkini.id/Hasbi)

Pemerintah Sulawesi Selatan khususnya vaksinator di lapangan menegaskan bahwa penderita komorbid yang tidak memenuhi syarat, tidak akan ditolak vaksinasi. Kebijakan yang kini berlaku adalah penderita komorbid dan kalangan berisiko diarahkan oleh Puskesmas ke Rumah Sakit. Jika tingkat komorbiditasnya dianggap parah, vaksinator akan mengarahkan peserta ke dokter spesialis untuk konsultasi penyakitnya.

"Kita terima semua untuk vaksinasi. Tidak ada yang ditolak, termasuk orang komorbid," tegas koordinator vaksinasi Rumah Sakit Umum Provinsi RSUP Tadjuddin Chalid Makassar, Dr Muhammad Saleh kepada terkini.id

Sejak dimulainya vaksinasi, Saleh mengungkapkan, rumah sakit provinsi tersebut telah menyuntikkan vaksin sejumlah 30.000 dosis. "Sekitar tiga per empatnya adalah dosis kedua. Sekitar 15 persen penerimanya adalah lansia," ungkap Muhammad Saleh. Rumah sakit yang terletak di Jalan Paccerakkang nomor 67 Kecamatan Biringkanayya itu, membuka layanan vaksinasi pada hari Senin, Rabu dan Jumat.

Saleh mengungkapkan cukup banyak lansia divaksinasi setelah dirujuk Puskesmas. "Kalau ada yang mau divaksinasi di Puskesmas, (tetapi) tensinya sampai 180 ke atas, biasanya dikirim ke sini. Jika penyakinya parah, komplikasi, kita rujuk ke dokter spesialis. Jadi tidak ditolak," tegasnya.

Epidemolog Universitas Hasanuddin, Prof Ridwan Amiruddin mendukung upaya semacam ini. Ia mengutip studi yang menunjukkan lansia yang divaskinasi memiliki imunitas lebih baik.

"Oleh karena itu, perlu komunikasi, pendekatan khusus supaya mereka ini mau divaksinasi, termasuk kepada keluarganya atau anaknya," ungkap dia.

Dia juga menyarankan kepada pemerintah, agar vaksinasi tidak hanya mengandalkan petugas Puskesmas. Satgas bisa diisi anggota TNI dan Kepolisian untuk mengawal dan mengajak masyarakat vaksinasi. Pemerintah juga disarankan memperbanyak gerai vaksinasi yang mudah dijangkau masyarakat. "Termasuk jadwal pemberian vaksinasi yang fix, dengan menyesuaikan jadwal masyarakat," ungkapnya.