Bupati di Papua Mundur dari Demokrat, Chusnul: AHY Jangan Nangis

Bupati di Papua Mundur dari Demokrat, Chusnul: AHY Jangan Nangis

FD
Fachri Djaman

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Pegiat media sosial, Chusnul Chotimah menanggapi kabar Bupati Tolikara Papua yang mundur dari partai pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY yakni Partai Demokrat dan memilih bergabung di PAN.

Chusnul Chotimah pun lewat cuitannya di Twitter, Sabtu 11 Desember 2021, lantas menyindir AHY terkait mundurnya Bupati Tolikara Papua Usman G Wanimbo tersebut dari Demokrat.

Menurut Chusnul, mundurnya bupati sekaligus Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Papua itu membuat partai berlambang Mercy tersebut semakin mangkrak.

Selain itu, ia juga menyindir AHY dengan meminta Ketua Umum Partai Demokrat tersebut agar tak menangis mendengar kabar pengunduran diri Usman G Wanimbo itu.

"Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Papua, Usman G Wanimbo yang juga menjabat Bupati Tolikara mundur dari Demokrat dan menyeberang ke Partai Amanat Nasional (PAN). PDemokrat Makin mangkrak. Bocil AgusYudhoyono jangan nangis ya," cuit Chusnul Chotimah.

Mengutip Sindonews, Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Papua Usman G Wanimbo yang juga menjabat Bupati Tolikara mundur dari Demokrat dan menyeberang ke Partai Amanat Nasional (PAN).

Usman memutuskan mundur dari Demokrat dan memilih bergabung dengan partai lain lantaran menurutnya hal itu adalah satu pilihan terbaik karena dirinya ingin melebarkan karir politik.

"Saya tidak mau sampai di situ. Tetapi mau karir politik saya berkembang. Maka saya ingin berjuang di Partai Amanat Nasional, dan pamit dari partai yang membesarkan karir nya sebagai Bupati Tolikara dua periode, yakni Partai Demokrat," ujar Usman G Wanimbo.

Maka dari itu, Bupati Tolikara Papua tersebut melayangkan surat pengunduran diri kepada Ketua Umum Partai Demokrat AHY agar tidak menimbulkan persepsi negatif di internal Demokrat Papua.

"Pengunduran diri ini sama sekali bukan di sebabkan karena adanya konflik internal partai ataupun konflik pribadi, akan tetapi semata-mata karena keinginan dan keputusan politik pribadi tanpa ada paksaan ataupun tekanan dari pihak manapun," ujarnya.