Terkini.id, Jakarta - Ferdinand Hutahaean menilai bahwa budaya lokal-lah yang membuat Indonesia besar dan kaya, bukan agama.
Ferdinand berargumen bahwa agama itu ada di seluruh belahan bumi dengan praktek yang sama.
Sementara, tidak punya budaya. Terlebih budaya lokal asli seperti yang dimiliki Indonesia.
"Agama itu ada dan sama prakteknya di seluruh belahan bumi. Tapi soal budaya, tak semua punya apalagi sama. Tak banyak yang punya seperti budaya lokal asli Indonesia. Itulah yang membuat kita besar dan kaya, bukan agama," katanya di akun Twitter @FerdinandHaean3 pada Sabtu, 10 April 2021.

Ferdinand lantas mengingatkan soal orang asing atau budaya asing yang menggusur budaya lokal Indonesia.
"Lantas kita mau biarkan asing menggusur budaya lokal nusantara?" katanya.
Dalam cuitannya itu, Ferdinand tidak menjelaskan konteks pembicaraannya.
Namun, sebelumnya ia pernah mnencuit soal batik sebagai budaya asli nusantara yang menurutnya dijelekkan oleh Tengku Zulkarnain.
"Hahahaha Pak Zul, saya kan cuma tertawa karena editan itu bagi saya cukup menghibur dan lucu. Tapi memang Pak Zul janganlah jelekkan batik yang merupakan budaya asli bangsa ini. Mari cintai budaya, dan mari beragama ber-Tuhan dan tetap berbudaya," cuitnya pada Jumat, 9 April 2021.
Selain itu, Ferdinand juga membalas sebuah cuitan yang menyinggung soal gamis dan surban yang dianggap budaya Arab.
"Pakai gamis, pakai surban, jenggotan. Lah ntuh Abu Jahal juga kayak gitu. Gamis itu budaya Arab. Budaya Arab bukan budaya Indonesia," kata @BudiMamo.
Cuitan itu lalu dibalas Ferdinand dengan penegasan untuk menjaga budaya asli Indonesia.
"Kita jaga budaya asli kita," kata Ferdinand.

Sebagai catatan, pernyataan Tengku Zulkarnain yang dinilai menjelekkan batik, ia sampaikan dalam sebuah ceramah.
Dari video yang beredar, Tengku Zul mengatakan bahwa batik itu tidak bagus untuk dipakai salat karena motifnya yang rumit bisa menggangu konsentrasi.
"Cuma batik itu, kan, nggak bagus dipakai salat. Kalau di depan saya ada orang salat pakai batik, saya di belakangnya, itu pikiran saya bingung. Ini macam mana membuat ini. Kriwil kriwil kriwil kriwil (memutar tangan seolah mengikuti pola batik). Susah betul mikirnya itu. Apalagi kalau batiknya gambar harimau (lalu peragakan harimau). Rusak salat orang. Seluruh ulama kita pakai jubah," kata Tengku Zul.










