Terkini.id, Makassar - Webinar Promosi Kesehatan dengan mengangkat tema 'Efikasi Vaksin dan Efektivitas Double Masker Dalam Pencegahan Covid-19' sukses digelar Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Peminatan Promosi Kesehatan Angkatan 2018 Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar pada Minggu, 15 Agustus 2021, via Zoom Meeting dan Streaming YouTube.
Webinar tersebut menghadirkan tiga pembicara dari 3 kampus berbeda yaitu Ansariadi, SKM., M.Sc.PH., Ph.D (Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset dan Inovasi Koordinator FETP Universitas Hasanuddin), Prof. Dr. Arlin Adam, SKM., M.Si (Ketua Senat Universitas Pejuang Republik Indonesia) dan Dr. Yusriani, SKM., M.Kes (Dosen FKM Universitas Muslim Indonesia).
Muh. Aswar Hidayat Arifuddin selaku ketua panitia penyelenggara mengatakan bahwa tujuan dari Webinar tersebut adalah untuk memberikan wawasan kepada masyarakat luas tentang efikasi vaksin dan efektivitas double masker dalam pencegahan Covid-19 sehingga masyarakat, akademisi, mahasiswa dan pemerintah dapat saling berkolaborasi dalam pengendalian kasus Covid-19 sesuai dengan peran masing-masing di tengah-tengah masyarakat.
"Kita sebagai masyarakat maupun dari segi pemerintah, harus lebih aware atau peduli masalah pandemi Covid-19 ini," pesan Dwi Murty Wardani Hermanzah selaku moderator.
"Dan juga stigma masyarakat di Indonesia apalagi mengenai vaksin masih sangat tinggi sehingga melalui webinar ini kita akan bahas tuntas mengenai hal ini, karena seperti yang kita ketahui bahwa masih sangat banyak pro dan kontra dari berbagai pihak di luar sana terutama pelaksanaan vaksinasi dan penggunaan double masker," tuturnya.
Ansariadi, SKM., M.Sc.PH., Ph.D selaku pembicara pertama mengatakan bahwa efikasi kalau vaksin biasanya diuji melalui beberapa tahapan fase dari fase 1, 2, dan 3 dengan membandingkan penurunan kasus antara yang sudah divaksin dengan yang tidak divaksin.
"Kalau kita melihat uji vaksinasi atau efikasinya, maka harus hati-hati menginterpretasinya. Kadang-kadang sangat dipengaruhi oleh kepada siapa itu diujikan," ujarnya.
"Efikasi vaksin itu dihitung dari kejadian kasus pada kelompok yang tidak divaksinasi dikurangi dengan kejadian kasus yang divaksinasi dan dibagi dengan kejadian kasus kelompok yang tidak divaksinasi," lanjutnya.
Sementara itu, Prof. Dr. Arlin Adam, SKM., M.Si selaku pembicara kedua mengatakan bahwa kedua isu ini baik vaksin maupun double masker jika dipadankan, maka sesungguhnya sama-sama masuk dalam konteks vaksinasi.
"Vaksinasi yang diurai oleh Pak Ansariadi masuk dalam kategori vaksin biologi. Kalau double masker secara spesifik sebenarnya itu bisa saya kategorikan vaksin sosial," tuturnya.
"Yang dapat saya jadikan intinya itu untuk menilai bagaimana sesungguhnya mengkonstruksi kembali kepatuhan, bagaimana merekayasa adanya kedisiplinan, dan bagaimana menginjeksi kesadaran sehingga saling mendukung vaksinasi biologi yang digalakkan itu bisa di back up juga dengan perilaku sosial yang mendukung seperti yang saya sebut tadi sebagai vaksin sosial," tambahnya.
Lebih lanjut, Dr. Yusriani, SKM., M.Kes selaku pembicara ketiga mengatakan bahwa diharapkan perilaku masyarakat berubah karena kesadarannya bukan karena faktor yang sifatnya paksaan yang menimbulkan respon representatif.
"Khususnya kita dengan background kesehatan, tidak henti-hentinya kita untuk selalu memberikan informasi dan edukasi kepada kolega, rekan, saudara, sahabat kita secara terus-menerus dan tidak bosan-bosannya untuk menyampaikan, karena karakter masing-masing individu ada yang sekali edukasi sudah bisa berubah, ada juga yang harus di edukasi terus sehingga betul-betul bisa berubah ke arah yang positif," pesannya.
Di akhir kegiatan Webinar, ia mengatakan bahwa dari Webinar tersebut bisa menjadi ikhtiar untuk salah satu cara mengkomunikasikan upaya-upaya meningkatkan vaksin biologis dan vaksin sosial sehingga bisa keluar dari masa pandemi.
Citizen Reporter : Nisaul Khaeriyah










