Terkini.id, Makassar - Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BDLHK) Makassar mengadakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Rehabilitasi Hutan Mangrove, Senin hingga Minggu, 1-7 Juli 2019, di Kantor BDLHK, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar.
Kegiatan ini dihadiri sebanyak 30 peserta yang berasal dari Dinas Kehutanan Provinsi/Kabupaten/Kota, KPH, dan UPT KLHK wilayah layanan BDLHK Makassar.
Dari pantauan di lokasi kegiatan, para peserta terlihat begitu antusias menyimak pemaparan para Widyaiswara yang terdiri dari 3 (tiga) pengajar atau pemateri. Mereka adalah I Nyoman Udiana, S.Sos. Dra. Anriani, MP dan Ir. Rosdiana, MP.
Selain materi di dalam ruangan, puncak kegiatan akan dikemas dalam bentuk praktek Budidaya Mangrove di Jekomala Lantebung, Salodong, Kelurahan Untia.
Praktek meliputi pengenalan jenis mangrove, membuat 150 ajir, membuat papan tanda, pengambilan buah untuk pembibitan diisi dalam polybag, pengambilan buah untuk penanaman sungai dengan menggunakan perahu, dan penanaman langsung di lapangan.
Salah satu widyaiswara I Nyoman Udiana mengatakan, kegiatan Budidaya Mangrove ini merupakan pengenalan jenis mangrove dan pembuatan alat-alat untuk penanaman ."
"Pesertanya dari Sulawesi sampai Papua," terang Nyoman kepada Media, Rabu, 3 Juli 2019.
Tujuan dari kegiatan ini yakni agar peserta diklat turut merehabilitasi hutan bakau dan mengembalikan fungsi hutan bakau secara alami dengan melakukan pembibitan, penanaman pengenalan jenis hutan mangrove.
"Diklat budidaya Mangrove ini sekaligus mendukung kelestarian ekosistem pantai dan aman dari serbuan tsunami. Tinggal bagaiman para peserta diklat Mangrove berkiprah ke depan," ujar Nyoman di sela-sela berlangsungnya Diklat.
"Pemerintah selalu berkomitmen terhadap kelestarian mangrove, khususmya di lokasi praktek. Selain itu apabila dikelola secara profesional, hutan mangrove menjadi destinasi wisata, makanya para peserta diklat kami ajak ke sana," sambungnya.
Harapan pembicara
Nyoman berharap masyarakat di sekitar lokasi praktek ikut berpikir bahwa pengelolaan mangrove dengan baik akan mendatangkan uang, bisa dengan mendapatkan dari penjualan karcis, souvenir, hasil tangkapan ikan dan lain-lain.
"Hasil penjualan wisata hutan Mangrove otomatis turut meningkatkan taraf hidup masyarakat. Terpenting dari tujuan wisata mangrove adalah perawatan," pungkasnya.
Pihaknya juga berharap wisatawan yang berkunjung ke hutan mangrove di Jekomala Lantebung, Salodong Kelurahan Untia agar senantias menjaga kebersihan, dengan tidak membuang sampah secara sembarangan.
"Kami dari tim pengajar menyarankan kepada mereka, kebersihan itu perlu dijaga dan tidak ada sampah plastik di hutan Mangrove bahkan itu sangat mengganggu pertumbuhan mangrove," pungkasnya.