Terkini.id, Jakarta – Terkait kebersamaan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Presiden Jokowi saat meninjau Sirkuit Formula E Guru Besar Universitas Airlangga (Unair) Pengamat Politik Profesor Henri Subiakto turut memberikan tanggapan.
Hal tersebut disampaikan Henri Subiakto melalui sebuah cuitan di akun media sosial twitter miliknya.
Dalam cuitannya, Henri menyebutkan bahwa Anies aslinya nasionalis yang menhormati tenun kebangsaan.
“Anies dahulu memang pendukung Jokowi. Anies itu aslinya nasionalis yang menghormati tenun kebangsaan,” twitnya.
Dia pun membeberkan alasan Anies akhirnya masuk berpindah ke oposisi.
“Tetapi karena ingin berkuasa, dia pun menerima saat didukung dan digandeng para penunggang agama,” kicaunya. Dikutip dari Wartaekonomi. Rabu, 27 April 2022.
“Anis pun jadi identik dan sulit dilepaskan dari kelompok mereka, bahkan jadi simbol perjuangan politik agama,” imbuhnya.
Lantas dari hal tersebut, cuitan tersebut pun memancing kebanjiran tanggapan dari warganet, termasuk cibiran sebagian pihak.
Banyak warganet merasa risih dan menilai frasa “ingin berkuasa” dalam twit sang profesor sebagai bentuk provokasi. Professor Henri pun memberikan balasan.
Dia meyakini frasa yang dirinya pakai itu benar adanya.
“Kalau tidak ingin berkuasa, tidak akan berpolitik, tidak jadi kandidat pejabat negara yang punya kekuasaan luas, tetapi hanya jadi pengajar,” cuitnya.
“Atau hanya menjabat saat ditunjuk atau diminta. Itu lain dengan yang harus kampanye mempromosikan dirinya sendiri,” sambung mantan Staf Ahli Kemenkominfo tersebut.
Dia lantas menafsirkan perubahan sikap Anies yang dahulu oposisi dengan kedekatannya bersama Jokowi kemarin.
“Sekarang (Anies) kepepet. Dahulu memanfaatkan dukungan. Harus mengkapitalisasi sebagai simbol perlawanan terhadap Jokowi dan kekuatan nasionalis,” terangnya.
“Tetapi politik kalangan elite itu tetap cair dan penuh interchangeable. Pendukung yang kaku mudah frustasi,” ucapnya.










