Aktivis 98 Sebut Moderasi Beragama Itu Sekuler, Yusuf Muhammad: Kasihan Gerombolan Kadrun! Makin Lama Makin Stres

Aktivis 98 Sebut Moderasi Beragama Itu Sekuler, Yusuf Muhammad: Kasihan Gerombolan Kadrun! Makin Lama Makin Stres

R
Resty

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta – Pegiat media sosial, Yusuf Muhammad menanggapi seorang laki-laki mengaku aktivis 98 yang menyebutkan bahwa moderasi beragama adalah sekularisme.

Yusuf Muhammad menyindir bahwa gerombolan kadar gurun alias kadrun semaki lama semakin stress.

“Kasihan gerombolan kadrun! Makin lama makin stres,” kata Yusuf Muhammad melalui akun Twitter pribadinya pada Rabu, 26 Januari 2022.

Bersama pernyataannya, Yusuf Muhammad membagikan cuitan netizen yang turut menyindir aktivis 98 yang menyebut moderasi beragama itu sekuler.

“Ini suara HTI yang sedang nyerang negara, Menyalahkan demokrasi, juga mensekulerkan moderasi beragama. Ini nyerang Islam Wasathiyah. Nyerang NU dan Muhammadiyah,” kata netizen dengan nama akun @RD4WR1*** tersebut.

Dalam video yang diuanggah netizen ini, seorang laki-laki yang mengaku sebagai aktivis 98 membahas dan mengaitkan beberapa hal, yakni Ibu Kota baru, oligarki, kapitalisme, hingga moderasi beragama.

Ditelusuri Terkini.id, video ini awalnya diunggah di kanal YouTube MimbarTube dengan judul “Bahaya! Aktivis 98 Bacakan Nama Pejabat yang Terlibat Proyek Ibu Kota Baru” pada 18 Januari 2022.

Dalam video tersebut, laki-laki ini awalnya membahas bahwa proyek Ibu Kota baru akan banyak menguntungkan oligarki.

Lantas, ia mengatakan bahwa oligarki adalah sebuah hal yang muncul dari sebuah konsep yang bernama kapitalisme.

“Kapitalism inilah yang sekarang sedang menggerogoti negeri ini dan seluruh dunia. Dan pola-pola kapitalisme ini sedang dilakukan jugadi negeri ini,” ujarnya.

Oleh sebab itu, laki-laki ini menilai bahwa tidak tepat jika Indonesia disebut sebagai negeri Pancasila, melainkan negara kapitalis.

“Negeri ini negeri kapitalis yang akhirnya melahirkan oligark-oligark para kapitalis yang mengendalikan hukum, yang mengendalikan ekonomi, yang mengendalikan Ibu Kota. Itu persoalan,” jelasnya.

Laki-laki ini melanjutkan bahwa sistem ini rusak dan lahir dari sekularisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan.

“Kenapa hari ini ada moderasi beragama misalnya? Itu sebenarnya untuk nutup-nutupi penjajahan kapitalisme oligark,” ujarnya.

Laki-laki berulang kali menegaskan bahwa moderasi beragama adalah sekuler untuk menutupi penjajahan kapitalisme.

“Apa yang saya katakan? Ganti rezim, ganti sistem. Apa sekali lagi saudara-saudara sekalian? Ganti rezim, ganti sistem!” katanya.

“Kesempatan yang baik ini, saya aktivis 98 yang sangat senang dengan syariah, saya tawarkan syariah Islam untuk negeri ini lebih baik,” tutupnya, yang kemudian disambut takbir oleh orang di sekitarnya.