TBM Lentera Pustaka giat membangun Taman Baca untuk Budaya Literasi
Taman bacaan harus mampu menjadi ujung tombak untuk mengkampanyekan budaya literasi di anak-anak dan masyarakat. Bahwa membaca sesuatu yang penting untuk menggali informasi dan pengetahuan. Bahkan menjadi tempat pemberdayaan masyarakat berbasis literasi. Apalagi di tengah gempuran era digital yang kian tak terbendung. Hal tersebut diungkapkan pegiat literasi sekaligus Pendiri TBM Lentera Pustaka di Kaki Gunung Salak Bogor, Syarifuddin Yunus. “Budaya literasi di Indonesia makin ke sini makin memprihatinkan. Untuk itu, taman bacaan masyarakat harus bisa jadi ujung tombak untuk menghidupkan tradisi baca dan tulis. Jangan biarkan dunia gawai atau dunia maya memgendalikan hidup anak-anak kita,” ujar Syarifudin Yunus kepada Media, Minggu, 16 Juni 2019. Berangkat dari realitas budaya literasi yang memprihatinkan itulah, kata dia, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka yang berlokasi di Desa Sukaluyu Kaki Gunung Salak Bogor sangat peduli untuk membangun budaya literasi di masyarakat, di lingkungan, di keluarga bahkan di sekolah. "Budaya literasi yang dibuat menarik dan menyenangkan. Agar anak-anak mau lebih dekat dengan buku bacaan. Karena inti budaya literasi, membaca harus jadi perilaku anak-anak dalam keseharian," ujarnya. Menurutnya, membaca harus jadi kebiasaan bahkan gaya hidup. Setelah itu, kemudian membiasakan menulis. "Melalui konsep TBM-Edutainment, TBM Lentera Pustaka saat ini telah menjadi tempat membaca bagi 60-an anak pembaca aktif. Dengan jam baca 3 kali seminggu, rata-rata setiap anak membaca 5-10 buku," ungkap Syarifuddin. [caption id="attachment_158589" align="alignnone" width="1080"]










