5 Hal yang Paling Sering Disalahpahami dari Feminisme

5 Hal yang Paling Sering Disalahpahami dari Feminisme

R
Resty

Penulis

Terkinidotid Hadir di WhatsApp Channel
Follow

Terkini.id, Jakarta - Dewasa ini, isu kesetaraan gender semakin gencar disuarakan. Para Feminist pun berada di barisan terdepan untuk menggaungkan isu ini. Sayangnya, masih banyak hal terkait feminisme yang disalahpahami oleh orang. Akibatnya, banyak orang yang langsung menyatakan dirinya sebagai anti-feminisme.

Inti dari gerakan feminisme adalah menuntut dan mengupayakan kesetaraan gender.

Dalam pergerakannya, para feminist banyak mengkritik hal-hal yang selama ini sudah dianggap biasa dalam masyarakat.

Tidak heran jika gerakan feminisme memang masih banyak yang tidak diterima oleh masyarakat.

Berikut ini adalah hal-hal yang paling sering disalahpahami dari feminisme.

1. Feminist membenci laki-laki

Kesalahpahaman paling besar soal feminisme adalah bahwa para feminist membenci laki-laki.

Padahal, musuh feminisme adalah patriarki yang selalu menempatkan perempuan sebagai kelas kedua dalam masyarakat.

Justru sebaliknya, ada beberapa isi laki-laki yang disuarakan oleh para feminist.

Contoh yaitu tingginya angka bunuh diri laki-laki.

Salah satu penyebab tingginya angka bunuh diri ini adalah karena laki-laki ditekan oleh lingkungan agar tidak menunjukkan emosi, padahal air mata dan kesedihan adalah suatu hal yang manusiawi.

Oleh karena itu, feminisme juga turut menyuarakan agar tidak mengolok laki-laki yang menunjukkan air mata dan kesedihannya.

Jadi sebenarnya, kesetaraan gender juga menguntungkan laki-laki.

2. Feminisme anti pernikahan

Tidak sedikit orang yang berpikir bahwa feminisme anti terhadap pernikahan.

Padahal, feminisme mendukung pilihan perempuan untuk hidup melajang ataupun menikah.

Hal yang ditentang oleh feminist bukanlah pernikahan, melainkan kesenjangan gender yang sering terjadi dalam pernikahan.

Contohnya saja, sangat banyak kekerasan yang dialami perempuan dalam pernikahan, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan seksual, hingga kekerasan ekonomi.

Kekerasan ini banyak terjadi karena perempuan selalu dianggap lemah dan berada di bawah laki-laki.

Selain itu, kebanyakan perempuan tidak punya pilihan lain sehingga bertahan dalam KDRT karena tidak memiliki pemasukan untuk membiayai dirinya sendiri dan anak-anaknya.

Maka, feminisme mendorong agar perempuan bisa berdaya dan menentang berbagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga.

3. Feminisme anti ibu rumah tangga

Hal ini terkait dengan poin kedua di atas.

Banyak yang berpikir bahwa feminisme anti terhadap posisi sebagai ibu rumah tangga.

Padahal, feminisme mendukung perempuan sebagai IRT maupun sebagai wanita karier.

Justru, feminisme juga terus menyuarakan agar posisi sebagai Ibu Rumah Tangga tidak dipandang remeh.

Di dalam masyarakat patriarki, Ibu Rumah Tangga selalu dianggap sebagai posisi yang mudah dan diposisikan di bawah pencari nafkah.

Akibatnya, perempuan sering diremehkan sebab dianggap tidak mandiri secara finansial.

Padahal, bayangkan saja jika perempuan juga bekerja dan akhirnya harus mempekerjakan ART?

Jadi, sebenarnya posisi IRT juga menghasilkan uang secara tidak langsung.

4. Feminisme anti agama

Feminisme sering sekali dituduh anti agama.

Padahal, feminisme adalah gerakan kemanusiaan yang tentunya mendukung kebebasan beragama.

Hal yang dikritik oleh feminisme bukanlah konsep agama melainkan praktek agama yang meminggirkan posisi perempuan.

Contoh konkretnya adalah feminisme dituduh melarang perempuan memakai jilbab.

Padahal, feminisme mendukung pilihan perempuan untuk memakai ataupun tidak memakai jilbab.

Menurut feminisme, memaksa orang memakai jilbab sama saja dengan memaksa orang tidak menggunakan jilbab.

5. Feminist tidak peduli pada pelecehan seksual yang terjadi pada laki-laki

Salah satu isu yang sangat digaungkan dalam feminisme adalah masalah pelecehan seksual yang memang lebih sering dialami perempuan.

Oleh karena itu, sering timbul kesalahpahaman bahwa feminisme hanya mendukung korban perempuan.

Padahal feminisme mengutuk segala bentuk pelecehan seksual, siapa pun pelakunya dan siapa pun korbannya.

Salah atau contoh posisi feminisme terkait pelecehan seksual adalah saat kasus Reynard Siregar.

Para feminist mengutuk pelaku dan tidak menyalahkan korban sama sekali, meskipun korbannya adalah laki-laki. Ini adalah bukti bahwa siapa pun korban dan pelakunya, feminisme selalu berpihak pada korban.

Demikianah hal-hal yang sering disalahpahami terkait feminisme.

Feminisme adalah paham bahwa perempuan dan laki-laki itu setara.

Maka dari itu, gerakan feminisme adalah adalah soal upaya pemberdayaan perempuan, bukan gerakan untuk menyerang laki-laki.